Home > Penanaman Rumput Laut > Pemeliharaan Rumput Laut > Bagian Thallus Rumput Laut

Bagian Thallus Rumput Laut

Salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan dalam pembudidayaan rumput laut adalah pengadaan bibit. Fungsi bibit bagi tanaman yaitu untuk memperbanyak atau mengembangbiakan tanaman.umur thallus. Bibit sebaiknya digunakan berupa stek, harus sehat, masih muda dan banyak cabang. Bibit yang diperoleh adalah bagian ujung tanaman (muda) umumnya memberikan pertumbuhan yang baik dan hasil panen mengandung karaginan yang lebih tinggi dibandingkan dengan bibit dari sisa hasil panen atau tanaman tua (Indriani dan Sumiarsih, 1999).

Ukuran bibit rumput laut yang ditanam sangat berpengaruh terhadap laju pertumbuhan dan bibit thallus yang berada bagian ujung akan memberikan laju pertumbuhan lebih tinggi dibandingkan dengan bibit thallus dari bagian pangkal. Bagian paling ujung rumput laut menunjukkan laju fotosintesis yang paling besar dibandingkan bagian lain yang semakin jauh jaraknya dari ujung (Glenn dan Doty 1981). Hasil penelitian Atmadja dan Sulistijo (1977) melaporkan bahwa bibit bagian ujung merupakan bibit yang tumbuh lebih cepat dibandingkan bagian lainnya, bibit yang lebih muda tampak memberikan pertumbuhan yang terbaik untuk dijadikan bibit.

Bagian ujung thallus juga memiliki kandungan hormon yang lebih banyak jika dibandingkan dengan pangkal thallus. Hormon ini sangat berperan dalam pertumbuhan thallus rumput laut. Hormon yaitu senyawa yang dihasilkan dalam tubuh tumbuhan, hormon yang paling berpengaruh terhadap pertumbuhan rumput laut antara lain :
(a) Auxin
Auxin pada rumput laut memiliki peran dalam hal meregulasi banyak proses fisiologi, seperti pertumbuhan, pembelahan dan diferensiasi sel serta sintesa protein. Auxin diproduksi dalam jaringan meristimatik yang aktif (yaitu tunas, daun muda dan buah). Aktifitas auxin mendorong pembelahan sel dengan cara mempengaruhi dinding sel. Auxin juga bersifat menjauhi cahaya (fototaksis negatif). Auxin akan diproduksi lebih banyak pada bagian rumput laut yang lebih sedikit terpapar sinar matahari, seperti gambar 8 dibawah ini. Auxin sintetis yang telah banyak digunakan adalah hydrasil.

image

Gambar 8. Bagian ujung thallus rumput laut, yang mengandung auxin.

(b) Giberellin
Giberalin secara alamiah terdapat pada berbagai jaringan tumbuhan. Selain terlibat dalam pertumbuhan batang, giberellin juga merupakan perangsang utama pada pertumbuhan akar, tunas, kecambah dan bunga. Pemberian giberellin dalam dosis rendah diketahui juga mampu merangsang pertumbuhan tanaman kerdil, dalam arti menanggulangi sifat penurunan bawaan (Kimball, 1990). Giberellin sebagai hormon tumbuhan pada tanaman sangat berpengaruh terhadap sifat genetik (genetic dwarfism), pembungaan, penyinaran, pathenocarpy, mobilisasi karbohidrat dan aspek fisiologi lainnya.

Giberellin mempunyai peran dalam mendukung perpanjangan sel, pembentukan enzim protease sehingga membebaskan tryptophan sebagai bentuk awal auxin, menstimulasi sintesis ribonukleas, meningkatkan aktivitas kambium dan mendukung pembentukan RNA baru serta sintesis protein. Mekanisme lain menjelaskan bahwa giberellin mendukung terbentuknya enzim α-amylase sehingga meningkatkan kandungan gula melalui hidrolisa pati/amilum dan secara otomatis meningkatkan tekanan osmotik.

Akibatnya, sel memiliki kecenderungan untuk berkembang. Selain itu, gula yang dihasilkan dapat ditranslokasikan ke tunas/ embrio sebagai sumber energi pada tahap awal pertumbuhan.Peran giberalin dalam rumput laut antara lain bekerja secara sinergis dengan auxin, sitokinin dan zat lain (sinergisme), semua organ tanaman mengandung GA, terkaya di buah dan biji. Giberalin juga berperan dalam pembelahan sel dan mendukung pembentukan RNA sehingga terjadi sintesa protein. Aktivitas giberalin terdapat pada kisaran konsentrasi luas, tidak bersifat racun/ merusak. GA sintesis komersil = GA3, GA7 dan GA13

(c) Sitokinin
Sitokinin pada rumput laut berperan dalam merangsang pembelahan sel (sitokinesis) dan merangsang mitosis dalam jaringan meristematik, serta berperan penting dalam proses translasi sintesis protein. Sitokinin sintesis komersial yang telah banyak digunakan antara lain BA, kinetin dan PBA

image

Gambar 9. Bagian ujung thallus yang dijadikan bibit rumput laut

Menurut Widyastuti dan Tjokrokusumo (2004), saat ini telah banyak ditemukan senyawa-senyawa sintetik yang mempunyai pengaruh fisiologis yang serupa dengan hormon tanaman. Semua hormon tanaman sintetik atau senyawa sintetik yang mempunyai sifat fisiologis dan biokimia yang serupa dengan hormon tanaman disebut Zat Pengatur Tumbuh (ZPT).

Hormon tanaman dan ZPT pada umumnya mendorong terjadinya suatu pertumbuhan dan perkembangan. Perbedaan diantara senyawa hormon tanaman dan ZPT antara lain sebagai berikut :
(a) Fitohormon atau hormon tanaman adalah senyawa organik bukan nutrisi yang aktif dalam jumlah kecil (< 1mM) yang disintesis pada bagian tertentu, pada umumnya ditranslokasikan ke bagian lain tanaman dimana senyawa tersebut menghasilkan suatu tanggapan secara biokimia, fisiologis dan morfologis.
(b) Zat Pengatur Tumbuh adalah senyawa organik bukan nutrisi yang dalam konsentrasi rendah (< 1 mM) mendorong, menghambat atau secara kualitatif mengubah pertumbuhan dan perkembangan tanaman.
(c) Inhibitor adalah senyawa organik yang menghambat pertumbuhan secara umum dan tidak ada selang konsentrasi yang dapat mendorong pertumbuhan.