Cara Kematian Ikan

Ikan yang berjuang keras dalam menghadap mautnya, lebih cepat membusuk daripada ikan yang mati dengan tenang dan cepat, karena fase rigor mortis terjadi sebelum waktunya. Pada ikan yang banyak mengeluarkan energi karena terkena jaring/pancing, maka perubahan glukosa asetyl berlangsung cepat sehingga reaksi terjadi secara anaerobic yang mengakibatkan terbentuknya asam laktat yang akan merubah suasana jaringan menjadi asam dan terjadi oksidasi haemoglobin menjadi methaemoglobin sehingga warna darah ikan menjadi pudar, juga terjadinya denaturasi (warna daging menjadi keruh), tekstur lembek karena rusaknya collagen.

Sebaiknya suatu alat tangkap harus memudahkan dalam cara penangkapan, sehingga dapat memberikan kemungkinan perlawanan kecil terhadap hasil tangkapan sebelum kematian.

1) Lamanya ikan berada dalam air
Pada saat ikan terkait mata pancing atau jaring, sampai tiba saatnya diangkat dari air dipengaruhi oleh suhu air laut sehingga proses kemunduran mutu akan berjalan lebih cepat

2) Suhu air laut
Daerah tropis, suhu rata-rata air laut cukup tinggi antara 23,9°C – 29,3°C salah satu jenis ikan (ikan tuna) tidak mempunyai mekanisme pengaturan panas tubuh dan suhunya berada sekitar 7,8°C di atas air laut, sehingga jika tidak cepat disemprot dengan air laut dan didinginkan, maka laju pembusukannya akan berlangsung lebih cepat.

3) Faktor biologis
Ikan yang kenyang (feedy fish) banyak mengandung enzyme dalam isi perutnya dan cepat mengurai sehingga mempengaruhi otot daging sekitar perut. Gejala ini menjurus pada belly burn (perut gosong) dan terbusai perut (belly torn dan belly burst), sehingga penanganannya harus lebih cepat dan hati-hati. Pada kondisi ikan sedang bertelur, enzym berada dalam keadaan aktif sekali, sehingga jika tertangkap harus segera ditangani dan didinginkan. Hal tersebut akan mempengaruhi kecepatan penurunan mutu jika dibandingkan dengan ikan yang ditangkap dalam keadaan normal. Salah satu usaha untuk mengatasinya dengan memakai alat tangkap yang selektif atau dengan mengatur waktu dan tempat penangkapan.

4) Faktor waktu dan suhu selama penanganan
Selama penanganan, ikan akan berhubungan dengan udara luar yang cukup tinggi suhunya dan kerusakan fisik karena perlakuan kasar akan mempercepat kemunduran mutu. Penanganan harus cepat, hati-hati dengan menerapkan rantai dingin. Suhu udara yang tinggi selama pengerjaan, lamanya penanganan merupakan faktor yang dapat mempercepat keaktifan bakteri pembusuk, sehingga suhu ruang penanganan pun harus disesuaikan dengan jenis produk yang ditangani. Kecepatan penurunan mutu terutama produk fillet/loin yang lebih peka terhadap kenaikan suhu.

5) Faktor kebersihan pekerja
Penularan kotoran ke produk perikanan yang sedang diproses, terutama produk fillet/loin akan menambah jumlah bakteri pada bahan yang sedang diproses. Oleh karena itu, faktor sanitasi dan hygiene yang meliputi kebersihan peralatan, ruangan tempat kerja, bahan pembantu yang bersinggungan dengan produk, pekerja/karyawan dan lain-lain yang memungkinkan penularan terhadap produk harus benar-benar diperhatikan