Home > Konservasi Tanah dan Air > Teknik Konservasi > Definisi Bendungan Beton

Definisi Bendungan Beton

Karakteristik bendungan beton
 – Tahan lama dan hampir tidak memerlukan perawatan. Memerlukan kondisi geologi yang baik di lokasi bendungan.
 – Pelaksanaan memerlukan ketelitian yang tinggi.

Sifat-sifat beton
 – Mudah dikerjakan
 – Beton tahan lama
 – Memenuhi kokoh tekan yang diinginkan
 – Daya rembesan kecil
 – Penyusutsn beton kecil
 – Koefisien perubahan temperatur kecil
 – Berat jenis beton homogen
 – Perubahan volume beton kecil

Bahan bangunan dari beton terdiri dari semen (PC), agregat halus dan kasar serta air harus memenuhi syarat tertentu:
 – Bahan tambahan (Admixture) terdiri dari :
 – Bahan untuk mempercepat waktu ikat (setting time).
 – Bahan untuk memperlambat waktu ikat (retarding admixture).
 – Bahan untuk mengurangi jumlah campuran beton (Plasticisier, Normal water reducing admixture, workability aids).

Bahan yang dipakai untuk mengurangi jumlah air yang dipakai untuk campuran beton sekaligus untuk memperlambat waktu ikat (retarding water reducing admixture). Bahan untuk menimbukan buih pada beton (air entraining agent).
image

Sambungan beton
Sambungan beron diperlukan karena adanya pembatasan volume setiap kali pengecoran beron dan keterbatasan peralatan dan waktu.
Jenis-jens sambungan :
Sambungan yang tekal lurus dengan sumbu bendungan (transverse joint, contraction joint).
 – Sambungan kearah memanjang bendungan (longitudina joint).
 – Sambungan untuk pelaksanaan (construction joint).
 – Sambungan pengunci (key way joint)

Bahan penahan air (waterstop)
Dengan adanya sambungan pada bendungan ada resiko terjadinya rembesan lewat sambungan tersebut. Jadi sambungan tersebut harus diperkuat dengan bahan penahan air.

Lubang (lorong) terdiri dari :
 – Lorong sementasi : untuk melakukan sementasi baik selama pembangunan maupun di dalam tahap pengoperasian perbaikan.
 – Lorong Drainage: untuk memasang sumur pelepas tekanan agar dapat mengurangi tekanan air keatas.
 – Lorong pemeriksaan : untuk pemeriksaan dan memasang instrumentasi bendungan .
 – Gaya yang bekerja pada bendungan

Gaya vertikal : Berat sendiri bendungan termasuk berat pintu air dan instalasi lainnya. Berat air di sebelah hulu bendungan apabila berbentuk miring sebagian atau seluruhnya. Berat lumpur di sebelah hulu bendungan apabila berbentuk miring sebagian atau seluruhnya.
 – Gaya tekan keatas (uplift pressure)

Gaya horisontal :
 – Gaya hidrostatis yang merupakan air yang menekan bendungan ada atau tanpa angin.
 – Gaya hidrodinamik yang merupakan air yang menekan bendungan apabila ada gempa
 – Gaya tekan lumpur
 – Gaya akibat gempa.

Keadaan muatan (gaya) yang harus diperhitungkan di dalam perencanaan :
 – Keadaan pada akhir masa konstruksi.
 – Kondis waduk kosong dan terjadi gempa bumi yang akan mendorong bendungan ke hulu.
 – Keadaan normal sesudah beroperasi.

Muatan gaya yang diperhitungkan adalah :
 – Berat sendiri.
 – Berat air di sebelah hulu bendungan
 – Gaya tekan keatas.
 – Gaya hidrostatiska.
 – Keadaan luar biasa sesudah waduk beroperasi

Muatan gaya yang diperhitungkan :
 – Berat sendiri.
 – Berat air di sebelah hulu.
 – Berat lumpur di sebelah hulu.
 – Gaya tekan ke atas.
 – Gaya hidrostatis.
 – Gaya hidrodinamis
 – Gaya horisontal akibat tekanan lumpur.
 – Gaya horisontal akibat gempa.

Syarat stabilitas yang harus dipenuhi :
 – Tidak mengalami penggulingan (overturning).
 – Tidak mengalam penggeseran (slidimg).
 – Tegangan tanah pada pondasi tidak dilampaui.
 – Air rembesan yang timbul masih dapat dikendalikan.