Home > Penanaman Rumput Laut > Pemeliharaan Rumput Laut > Faktor Cahaya Matahari Rumput Laut

Faktor Cahaya Matahari Rumput Laut

Cahaya matahari dibutuhkan oleh rumput laut untuk proses fotosintesis dimana hasilnya adalah fiksasi CO2. Selain itu ultraviolet juga dibutuhkan untuk pertumbuhan dirinya. Kemampuan cahaya menembus perairan akan berkurang dengan bertambahnya dengan kedalaman. Zona ini disebut zona photic. Perubahan pada intensitas dan kualitas cahaya yang menembus perairan dengan bertambahnya kedalaman menggambarkan kemampuan rumput laut untuk tumbuh.

Eucheuma sp. termasuk dalam golongan Rhodophyceae yang dapat hidup pada perairan yang lebih dalam dari golongan Chlorophyceae maupun Phaeophyceae (Dawes, 1981). Kecerahan perairan menentukan jumlah intensitas sinar matahari atau cahaya yang masuk ke dalam perairan. Kecerahan perairan dapat juga dilihat dari warna perairan tersebut, kandungan bahan-bahan organik maupun anorganik tersuspensi di perairan, kepadatan plankton, jasad renik dan detritus dapat mempengaruhi tingkat kecerahan perairan.

Kekeruhan merupakan faktor pembatas bagi proses fotosintesis dan produksi primer perairan karena mempengaruhi penetrasi cahaya matahari. Disamping itu, kekeruhan merupakan gambaran sifat optik dari suatu air yang ditentukan berdasarkan banyaknya sinar (cahaya) yang dipancarkan dan diserap oleh partikel-partikel yang ada dalam air (Boyd, 1988 dalam Apriyana 2006). Menurut Soemarwono (1984) dalam Masrawati (1999) menyatakan bahwa salah satu penyebab kekeruhan adalah adanya zat-zat organik yang terurai, jasad-jasad renik, lumpur dan tanah liat atau zat-zat koloid yaitu zat-zat terapung yang mudah mengendap.

Semua jenis rumput laut memiliki kandungan pigmen yang bermacam-macam. Kemampuan pigmen dalam membantu pertumbuhan inilah yang sangat dipengaruhi oleh cahaya matahari. Kappaphycus merupakan tumbuhan laut yang mempunyai derivat klorofil sehingga memerlukan sinar matahari untuk kelangsungan hidupnya (Doty, 1987). Sintesis klorofil sangat dipengaruhi oleh cahaya. Apabila tanaman disinari dengan cahaya yang cukup maka pembentukan klorofil akan lebih sempurna (Sallisbury dan Ross, 1969).

Menurut Dwijoseputro (1989), pembentukan klorofil dimulai dari protoklorofil yang mengalami reduksi menjadi klorofil-a apabila ada sinar matahari. Sinar matahari diserap oleh protoklorofil dan dirubah menjadi klorofil-a. Peristiwa ini disebut sebagai autotransformasi.

image

Gambar 10. Pigmen yang terdapat pada rumput laut yang membantu proses fotosintesis

Menurut Kimball (1990), fikoeritrin merupakan pigmen pelengkap yang berfungsi membantu klorofil-a dalam menyerap cahaya pada proses fotosintesis. Jumlah klorofil-a yang rendah kurang mencukupi dalam penyerapan cahaya untuk proses fotosintesis, sehingga memacu pembentukan fikoeritrin yang lebih banyak. Menurut Saffo (1987) dalam Veronika dan Izzati (2009), fikoeritrin mampu menyerap cahaya hijau dengan efisien.

Sementara itu, pigmen fikoeritrin dan fikobilin mampu menyerap cahaya hijau dan biru (Dawes, 1987). Hal ini menjadi penyebab perubahan komposisi pigmen pada Eucheuma yang ditanam pada perairan laut yang lebih dalam. Nybakken (1988) menyatakan, setelah gelombang cahaya menembus permukaan laut, komponen komponen ungu dan merah cepat diserap oleh air. Komponen hijau dan biru diserap lebih lambat dan dapat menembus air lebih dalam. Saffo (1987) dalam Veronika dan Izzati (2009) dan Dawes (1981) juga menjelaskan bahwa cahaya yang dapat menembus perairan yang dalam adalah cahaya dengan panjang gelombang sedang. Cahaya hijau merupakan cahaya yang bergelombang sedang karena mempunyai panjang gelombang 525 nm.

Mutu dan kualitas cahaya berpengaruh terhadap produksi spora dan pertumbuhan rumput laut. Intensitas cahaya yang tinggi merangsang persporaan Porphyra tetapi menghambat persporaan Eucheuma sp. Kebutuhan cahaya pada rumput laut merah lebih rendah dibandingkan dengan alga cokelat. Misalnya persporaan Gracillaria verrucosa berkembang baik pada intensitas cahaya 400 lux, sedangkan Ectocarpus pada intensitas cahaya antara 6.500-7.500 lux (Aslan, 1998).