Home > Penanaman Rumput Laut > Pemeliharaan Rumput Laut > Faktor Salinitas Rumput Laut

Faktor Salinitas Rumput Laut

Salinitas adalah jumlah (gram) zat-zat yang larut dalam kilogram air laut dimana dianggap semua karbonat-karbonat telah diubah menjadi oksida, brom, dan ion diganti oleh clor dan semua bahan-bahan organik telah dioksidasi secara sempurna. Salinitas perairan untuk organisme laut merupakan faktor lingkungan yang penting. Setiap organisme laut memiliki toleransi yang berbeda terhadap salinitas untuk kelangsungan hidupnya.

Beveridre (1987) dalam Iksan (2005) menyatakan salinitas berhubungan erat dengan tekanan osmotik yang mempengaruhi keseimbangan tubuh organisme akuatik. Dinyatakan pula bahwa semakin tinggi kadar garam (salinitas) maka makin besar pula tekanan osmotik pada air. Salinitas juga berhubungan dengan proses osmoregulasi dalam tubuh organisme. Di dalam rumput laut Eucheuma sp tumbuh berkembang dengan baik pada salinitas yang tinggi.

Penurunan salinitas akibat masuknya air tawar dari sungai dapat menyebabkan pertumbuhan rumput laut Eucheuma sp menurun. Menurut Dawes (1981), kisaran salinitas yang baik bagi pertumbuhan Eucheuma sp adalah 30-35 ppt. Menurut Zatnika dan Angkasa (1994) menyatakan bahwa salinitas perairan untuk budidaya rumput laut jenis Eucheuma sp., berkisar antar 28-34 ppt. Sedangkan menurut Soegiarto et al., (1978) kisaran salinitas yang baik untuk Eucheuma sp adalah 32-35 ppt. Apabila salinitas berada dibawah 30 ppt maka akan merusak rumput laut yang ditandai dengan timbulnya warna putih diujung-ujung tanaman (Collina, 1976 dalam Iksan, 2005).

Secara umum salinitas air laut mencapai 35‰ pertumbuhan rumput laut maksimum terdapat pada kisaran salinitas 15-38‰ dengan salinitas air laut mencapai 35‰ pertumbuhan rumput laut maksimum terdapat pada kisaran salinitas 15-38‰ dengan salinitas optimum 25‰. Jenis Gracillaria hidup baik dalam kisaran salinitas 15-22‰ sedangkan jenis Fucus vesiculosus toleran pada salinitas 8-34‰. Penyebaran rumput laut di suatu daerah juga ditentukan oleh pencampuran air tawar dari sungai (Luning, 1990).

Rumput laut dapat melimpah pada perairan dengan salinitas tinggi, tetapi ada pula yang melimpah pada salinitas yang rendah karena pengaruh masukan air tawar. Semakin ke timur perairan Indonesia, keanekaragaman rumput laut semakin tinggi karena struktur dan kondisi karangnya semakin baik, kejernihan air yang tinggi, bebas dari sedimentasi dan salinitas yang tinggi yaitu 30‰ (Mubarak et al., 1990). Marga Eucheuma memerlukan persyaratan lingkungan yang moderat membutuhkan substrat yang tidak lunak tapi tidak terlalu keras, yaitu pasir dan pecahan karang, memerlukan gerakan air yang sedang, gerakan air yang kuat dapat menyebabkan thallusnya patah dan air yang stagnan dapat menyebabkan kematian, salinitas antara 29-34‰ (Mubarak et al., 1990).

Marga Gracillaria hidup pada kisaran kondisi lingkungan yang lebih lebar dari pada Eucheuma selain di ekosistem terumbu karang ia dapat pula hidup di ekosistem estuaria, ia dapat menempel pada lumpur, pasir dan karang atau kulit kerang, ia dapat hidup pada air yang stagnan gerakan air yang moderat, salinitas antara 15-34‰, karena itu dapat dibudidayakan di laut ataupun di tambak. Marga Gelidium memerlukan kondisi lingkungan yang kisarannya sempit, membutuhkan gerakan air yang sangat kuat dan menempel pada substrat yang sangat keras karena itu banyak ditemukan di pantai Samudra Hindia, jenis ini belum dibudidayakan (Mubarak et al., 1990).

Marga Sargassum termasuk tumbuhan kosmopolit yang hidup pada rataan terumbu karang sampai daerah tubir pada rataan terumbu, mampu tumbuh dengan baik melekat pada substrat keras, sebarannya sangat luas di seluruh perairan Indonesia (Mubarak et al., 1990).