Home > Penanaman Rumput Laut > Penyakit Rumput Laut > Gejala Serangan Pada Rumput Laut

Gejala Serangan Pada Rumput Laut

Semangun (1996) menjelaskan penyakit tumbuhan bila ditinjau dari sudut biologi adalah sebagai penyimpangan dari sifat normal yang menyebabkan bagian tubuh tidak dapat melakukan kegiatan fisiologi yang biasa, sementara dari sudut ekonomi penyakit adalah ketidakmampuan tumbuhan untuk memberikan hasil yang cukup, baik kuantitas maupun kualitas. Jasad renik (mikroba) tidak langsung menjadi penyebab suatu penyakit, tapi keadaan luar telah melemahkan tumbuhan terlebih dahulu, sehingga jasad dapat masuk atau juga oleh penyebab-penyebab yang bekerja terus menerus dalam waktu yang lama.

Penyakit hanya akan terjadi jika pathogen yang virulen, dan lingkungan yang sesuai. Penyakit tidak akan terjadi jika pathogen yang virulen bertemu dengan bagian tubuh yang rentan, tetapi lingkungan tidak mendukung. Lingkungan seperti kelembaban, suhu, sinar matahari dan unsur hara sangat mempengaruhi proses tersebut. Penyakit pada rumput laut terjadi akibat serangan sekunder, yang berasal dari lingkungan. Penyakit rumput laut juga dapat diawali dari luka atau lecet yang terdapat pada thallus.

Luka atau terkelupasnya thallus rumput aut dapat disebabkan pada penanganan thallus yang kurang baik, luka akibat pemotongan bibit/fragmentasi bibit atau dapat juga berasal dari bekas gigitan hama. Luka atau pengelupasan thallus jika terpampang dengan perairan yang kurang bersih atau kurang optimal maka akan menyebabkan perubahan fisiologis pada rumput laut yang akhirnya akan mempermudah rumput laut terserang penyakit yang ada di perairan.

Penyakit utama yang menyerang rumput laut adalah ice-ice yang ternyata setelah diteliti lebih dalam, ditemukan infeksi bakteri pada ice-ice tersebut. Ice-ice diketahui pertama kali menginfeksi Eucheuma di Philipina pada tahun 1974 (Aji 1992 dalam Santoso, 2008 ; Sulistiyo, 1988), merupakan penyakit yang banyak menyerang rumput laut pada saat musim hujan (Oktober-April) (Doty, 1975; Doty 1979; Mintardjo, 1990). Ice-ice merupakan penyakit dengan tingkat infeksi cukup tinggi di negara Asia penghasil Eucheuma (Philips, 1990).

Penyakit ini merupakan efek bertambah tuanya rumput laut (Doty, 1979; Trono, 1990) dan kekurangan nutrisi (Kaas and Perez, 1990), ditandai dengan timbulnya bintik/bercak-bercak merah pada sebagian thallus yang lama kelamaan menjadi kuning pucat dan akhirnya berangsur-angsur menjadi putih dan akhirnya menjadi hancur atau rontok (Aditya dan Ruslan, 2003; Aji dan Murdjani, 1986; Imardjono et al.,1989; Trensongrusmee dkk., 1986; Runtuboy, 2004).

Ice-ice dapat menyebabkan thallus menjadi rapuh dan mudah putus. Gejala yang diperlihatkan adalah pertumbuhan yang lambat, terjadinya perubahan warna menjadi pucat dan pada beberapa cabang thallus menjadi putih dan membusuk. Stress yang diakibatkan perubahan kondisi lingkungan yang mendadak seperti: perubahan salinitas, suhu air dan intensitas cahaya, merupakan faktor utama yang memacu timbulnya penyakit ice-ice.

Ketika rumput laut mengalami stress karena rendahnya salinitas, suhu, pergerakan air dan instensitas cahaya, akan memudahkan infeksi patogen (Imardjono et al.,1989; Hurtado and Agbayani, 2000; Mintardjo, 1990; Kaas and Perez, 1990). Dalam keadaan stres, rumput laut (misalnya: Gracilaria, Eucheuma atau Kappaphycus) akan membebaskan substansi organik yang menyebabkan thallus berlendir dan diduga merangsang banyak bakteri tumbuh di sekitarnya (Trono, 1974; Aji dan Murdjani, 1986; Kaas and Perez, 1990; Uyenco et al.,1981 ).

Laminaria juga terinfeksi penyakit yang mirip ice-ice disebabkan karena tinggi Hidrogen Sulfida (H2S) yang diproduksi oleh bakteri saprofit (Wu et al.,1976 dalam Yuan, 1990). Kejadian penyakit ice-ice bersifat musiman dan menular.

Penyakit ini terjadi di daerah-daerah dengan kecerahan tinggi, biasanya dikenal sebagai ice-ice dengan gejala timbulnya bintik-bintik/bercak-bercak pada sebagian thallus, namun lama kelamaan akan menyebabkan kehilangan warna sampai menjadi putih dan mudah terputus. Penyakit ini menyerang Kappaphycus alvarezii atau Eucheuma spp. terutama disebabkan oleh adanya perubahan lingkungan (arus, suhu, kecerahan, dll.) di lokasi budidaya dan berjalan dalam waktu yang cukup lama.