Home > Konservasi Tanah dan Air > Erosi dan Sedimentasi > Komponen Sistem Informasi Geografis

Komponen Sistem Informasi Geografis

Fungsi-fungsi di atas sebagian besar dapat berjalan Sistem Informasi Geografis memiliki kemampuan dalam mendepskripsikan data geografis. Pada dasarnya Sistem Informasi Geografis (SIG) dapat menerima tiga komponen data, yaitu :
1) Data spasial/data geografis yang berhubungan dengan posisi koordinat tertentu.
2) Data non spasial (atribut) yang tidak berkaitan dengan posisi berupa tema-tema tertentu, seperti warna, tekstur, jenis lahan, dan sebagainya.
3) Hubungan antara data spasial atribut dan data waktu yang berkaitan.

Sub Sistem SIG
Sistem Informasi Geografis (SIG) dapat diuraikan menjadi beberapa subsistem:
1) Data Input [modul data capture – Gistut94]. Bertugas untuk mengumpulkan dan mempersiapkan data spasial dan atribut dari berbagai sumber. Selain bertanggung jawab dalam mengkonversi atau mentransformasikan format data asli ke dalam format yang dapat digunakan oleh SIG.
2) Data Output [modul display dan reporting – Gistut94]. Menampilkan output seluruh atau sebagian basis data dalam bentuk softcopy atau hardcopy (tabel, grafik, dan peta).
3) Data Management [subsistem storage dan retrieval – Demers97].
Mengorganisasikan data spasial dan atribut ke dalam basis data sedemikian mudah untuk dipanggil, di-update dan di-edit.
4) Data Manipulation & Analysis. Menentukan informasi yang dapat dihasilkan oleh SIG. Selain itu juga memodelkan data untuk menghasilkan informasi yang diharapkan.
image
Gambar 7. Sub system SIG

Digitasi Peta
Salah satu sumber data yang sangat vital diperlukan adalah data masukan dari suatu peta, sehingga komponen konversi data dari peta menjadi data digital merupakan komponen utama dalam sistem data base di SIG. Proses demikian disebut sebagai Digitasi Peta. Digitasi adalah konversi data analog ke data digital atau pemindahan elemen-elemen peta (titik, garis, luasan) ke dalam koordinat atau seri koordinat yang dihubungkan dengan suatu kode yang menunjukkkan arti dari elemen tersebut.

Semua data dimasukkan pada median pita kertas (papertape) atau pita magnetik (magnetic tape). (Aryono P., 1989). Pada saat digitasi perlu adanya kode pada tiap-tiap feature yang akan didigitasi. Pemberian kode ini dimaksudkan supaya gambar peta dalam bentuk digital dapat diubah untuk keperluan pemetaan digital melalui kegiatan editing (Benny J Hendry S, dkk, 1987). Papan digitizer berupa meja grid yang merupakan serangkaian konduktor-konduktor listrik untuk menyatakan setiap posisi titik ke dalam koordinat X dan Y.

Karena grid tersebut merupakan konduktor-konduktor listrik, maka kursor yang digunakan berupa kumparan yang berpusat pada benang silangnya. Apabila merekam suatu kooordinat suatu titik akan menimbulkan arus yang mengakibatkan terjadinya suatu medan magnetis dan menimbulkan tegangan induksi pada rangkaian konduktr listrik dalam grid. Encoder dalam digitizer akan mengubah pulsa-pulsa listrik menjadi koordinat X dan Y (Aryono P, 1989).