Lumpur Dasar Kolam/Tambak

Nilai redok potensial lumpur dasar tambak menunjukkan kondisi tanah yang dapat digunakan untuk mengikuti perkembangan fenomena reaksi kimia dan biologi dalam tambak. Dengan nilai redoks potensial yang negative menunjukkan terjadinya reaksi reduksi, yang dapat menghasilkan senyawa yang bersifat racun terhadap udang seperti senyawa sulfida (H₂S), Nitrit dan amonia. Oleh karena itu sangatlah penting untuk melakukan pengamatan lumpur dasar selama pemeliharaan untuk menentukan perlakuan.

Kondisi lumpur dasar tambak selama pemeliharaan juga sangat ditentukan oleh manajemen pakan tambahan. Pengelolaan pakan harus dilakukan dengan baik. Hal ini mengingat biaya operasional untuk pakan dalam budidaya udang sangat besar. Dampak penggunaan pakan yang tidak terkontrol juga akan menyebabkan permasalahan memburuknya lingkungan tambak dan pada akhirnya dapat menyebabkan munculnya penyakit dan kematian.

Pengukuran redok tanah dasar tambak dilakukan setiap 2 minggu sekali. Apabila nilai redoks sudah mencapai -100 mV menunjukan adanya reaksi reduksi yang diduga akan menghasilkan senyawa beracun nitrit dan sulfida pada pH asam dan Amonia pada pH basa. Tindakan yang dapat dilakukan bila redok potensial telah mencapai kurang -100 mV adalah dengan meningkatkan kandungan oksigen terlarut pada dasar tambak.

Peningkatan oksigen terlarut dapat dilakukan dengan aerasi atau dengan pompa . Cara lain adalah dengan pengaturan pH air pada kisaran 7,8 – 8,5. Aplikasi bakteri pengurai secara rutin dapat mempercepat penguraian bahan organik pada lumpur dasar.

Bahan Organik
Kondisi kualitas air tambak dapat diukur dengan parameter kandungan total bahan organik (TOM) atau jumlah N-organik dalam air. Peningkatan kandungan N-organik dalam disebabkan sisa pakan yang tidak dikomsumsi, kotoran udang, kematian plankton atau tanaman air lainnya, dan bahan organic yang masuk pada saat pergantian air. Kandungan bahan organik yang tinggi lebih dari 60 ppm menunjukkan kualitas air yang menurun.

Proses perombakan bahan organik tidak dapat berlangsung dengan sempurna. Kandungan total bahan organik merupakan sumber terjadinya senyawa yang dapat meracuni udang dalam proses anaerob atau reaksi reduksi. Pengukuran bahan organik dilakukan setiap minggu baik pada petak pembesaran udang maupun petak tandon. Bila kandungan air tambak mencapai 50 ppm maka perlu dilakukan penurunan yaitu dengan cara pergantian atau penambahan air dari petak tandon.

Cara ini dapat dilakukan kalau petak tendon kandungan bahan organiknya lebih rendah. Cara lain adalah dengan penebaran probiotik jenis Bacillus sp dan Rodobacter sp secara rutin tiap 3 hari sekali dengan dosis 1 – 2 ppm untuk mempercepat proses penguraian bahan organik. Perlakukan lain untuk mencegah terjadinya proses tersebut dengan membuat kondisi aerob dengan mempertahankan oksigen terlarut tetap tinggi yaitu lebih dari 4 ppm.

Penguraian bahan organik akan berlangsung dengan baik apabila komposisi C/N rasio dalam bahan organik tersebut lebih dari 10. Oleh karena perlu dilakukan penambahan sumber karbon (C-organik). Sumber C-organik yang digunakan adalah bahan-bahan karbohidrat seperti tepung tapioka, terigu dan lain-lain. Aplikasi bahan-bahan karbohidrat diberikan 1 – 2 kali per minggu. Dosis pemberian adalah 10% dari jumlah total protein (crude protein) dari pakan komersial yang telah diberikan. Sebagai dampak dari perlakukan ini adalah terjadinya penurunan bahan organik dan pertumbuhan plankton yang ditandai warna hijau.