Pasang Surut Air Laut

Pasang merupakan suatu gelombang yang frekuensinya rendah dan pada umumnya intensitas terjadinya lebih kecil dari dua kali sehari. Pergerakan pasang ini disebabkan oleh adanya gaya tarik dari benda-benda angkasa terhadap massa air di bumi. Gerakan ini juga dipengaruhi oleh rotasi bumi sendiri serta letak pulau dan benua. Oleh sebab itu tinggi rendahnya gerakan pasang di bumi terutama ditentukan oleh jarak atau letak matahari dan bulan terhadap bumi.

Secara ekologis gelombang paling penting berada di mintakat pasang surut. Di bagian yang agak dalam pengaruhnya mengurang sampai ke dasar, dan di perairan oseanik pasang surut mempengaruhi pertukaran udara dan agak dalam. Gelombang dapat ditimbulkan oleh angin, pasang-surut dan kadang-kadang oleh gempa bumi dan gunung meletus (dinamakan tsunami). Gelombang mempunyai sifat penghancur. Biota yang hidup di mintakat pasang surut harus mempunyai daya tahan terhadap pukulan gelombang.

Gelombang dengan mudah merusak alga-alga dari substratnya. Gelombang diduga juga mengubah bentuk karang-karang pembentuk terumbu. Gelombang mencampur gas atmosfir ke dalam permukaan air sehingga terjadi pertukaran gas. Secara keseluruhan, resultanta gaya pada sistem bulan-bumi ini sama dengan nol. Namun demikian, tiap individu partikel yang ada di permukaan bumi mengalami gaya yang berbeda-beda terhadap bulan.

Demikian pula halnya dengan gaya sentrifugal yang dialami titik pada permukaan bumi akan berbeda-beda akibatnya, resultanta gaya-gaya ini berbeda-beda pada tiap titik di bumi. Gaya inilah yang dikenal sebagai gaya “pembangkit pasang” (Tide generating force). Dengan adanya gaya tarik bulan yang kuat, maka massa air pada bagian bumi yang terdekat ke bulan akan tertarik membengkak sehingga perairan di tempat tersebut akan naik dan menimbulkan pasang.

Pada saat yang sama, bagian bumi dibaliknya akan mengalami pasang pula. Sedang sisi lainnya yang tegak lurus pada poros bumi-bulan akan mengalami surut. Faktor yang lebih penting mempengaruhi besarnya pasang adalah posisi bulan-matahari terhadap bumi. Jika bulan terdapat antara bumi dan matahari, ketiga benda angkasa ini berada pada garis lurus disebut bulan baru (new moon). Sedang bila bumi terletak diantara bulan dan matahari disebut bulan purnama (full moon).

Padatan Terlarut Total (TDS)
Total Dissolve Solid (TDS) yaitu ukuran zat terlarut (baik itu zat organik maupun anorganik) yang terdapat pada sebuah larutan. TDS menggambarkan jumlah zat terlarut dalam part per million (ppm) atau sama dengan milligram per liter (mg/L). Umumnya berdasarkan definisi diatas seharusnya zat yang terlarut dalam air (larutan) harus dapat melewati saringan yang berdiameter 2 micrometer (2×10-6 meter). Aplikasi yang umum digunakan adalah untuk mengukur kualitas cairan pada pengairan, pemeliharaan aquarium, kolam renang, proses kimia, pembuatan air mineral, dan lain-lain (Misnani, 2010).

Total padatan terlarut dapat pula merupakan konsentrasi jumlah ion kation (bermuatan positif) dan anion (bermuatan negatif) di dalam air. Analisa total padatan terlarut merupakan pengukuran kualitatif dari jumlah ion terlarut, tetapi tidak menjelaskan pada sifat atau hubungan ion. Selain itu, pengujian tidak memberikan wawasan dalam masalah kualitas air yang spesifik. Oleh karena itu, analisa total padatan terlarut digunakan sebagai uji indikator untuk menentukan kualitas umum dari air.

Sumber padatan terlarut total dapat mencakup semua kation dan anion terlarut (Oram, B.,2010). Sumber utama untuk TDS dalam perairan adalah limpahan dari pertanian, limbah rumah tangga, dan industri. Unsur kimia yang paling umum adalah kalsium, fosfat, nitrat, natrium, kalium dan klorida. Bahan kimia dapat berupa kation, anion, molekul atau aglomerasi dari ribuan molekul. Kandungan TDS yang berbahaya adalah pestisida yang timbul dari aliran permukaan.

Beberapa padatan total terlarut alami berasal dari pelapukan dan pelarutan batu dan tanah (Anonymous, 2010). Batas ambang dari TDS yang diperbolehkan di sungai adalah 1000mg/L. Peningkatan padatan terlarut dapat membunuh ikan secara langsung, meningkatkan penyakit dan menurunkan tingkat pertumbuhan ikan serta perubahan tingkah laku dan penurunan reproduksi ikan. Selain itu, kuantitas makanan alami ikan akan semakin berkurang (Alabaster dan Lloyd ,1982).