Pengelolaan Fitoplankton

1. Keberadaan fitoplankton tambak pada dasarnya sangat diperlukan.
Fitoplankton adalah bagian dari komunitas mikroba yang berperan dalam mengatur kondisi kultur yang diinginkan. Selain dapat memanfaatkan sisa nutrient, keberadaan fitoplankton juga mengurangi intensitas cahaya, memproduksi oksigen, menstabilkan temperatur serta memberikan kontribusi akan kebutuhan nutrient bagi organisme yang dipelihara. Pada tipe budidaya yang semakin beragam, model pengelolaan fitoplankton harus disiasati sehingga didapatkan kondisi ambient pada kepadatan tertentu yang merupakan ukuran ideal. Perlu disadari juga bahwa kebanyakan problem kualitas air adalah resultan dari beberapa faktor yang pada awalnya merupakan efek dari keberadaan fitoplankton yang tidak terkelola denganbaik.

2. Fitoplankton akan berada pada kondisi yang diinginkan bilamana dikelola dan dicermati berbagai fluktuasi faktor-faktor yang berpengaruh dalam pertumbuhannya.
Secara umum, plankton yang berwarna hijau atau hijau kuning akan lebih mudah dipertahankan dari pada yang berwarna coklat. Pada kolam–kolam dengan tingkat salinitas sangat rendah, jenis alga hijau biru kemungkinan akan muncul. Jenis ini tidak begitu memberikan kontribusi pada kandungan oksigen terlarut dan bahkan cenderung membahayakan ikan/udang yang dipelihara.

3. Problem umum yang sering muncul pada awal-awal masa produksi adalah kematian plankton akibat kekurangan nutrien atau CO₂.
Kondisi ini dapat terjadi dengan tiba-tiba dan menyisakan sedikit plankton yang masih hidup. Plankton yang mati akan menyebabkan munculnya busa dalam jumlah besar di permukaan dan juga deposit material di dasar. Pada akhir masa pemeliharaan, problem biasanya terkait dengan kepadatan yang berlebih. Jika plankton terlalu padat dan air tidak diaerasi secara terus menerus sebagian plankton akan mati karena tidak mendapatkan cahaya yang cukup. Kematian juga sering terjadi karena perubahan kualitas air yang dramatis seperti adanya hujan yang sangat lebat.

4. Untuk menjaga kondisi plankton yang stabil, perlu untuk menambahkan sejumlah nutrien, CO₂ dan cahaya.
Nutrien dapat ditambahkan dalam bentuk pupuk anorganik dengan dosis 3 – 5 ppm. CO₂ dipasok dari atmosfir, respirasi hewan piaraan, respirasi fitoplankton dan bakteri, alkalinitas serta pengapuran. Penetrasi cahaya matahari dapat ditingkatkan dengan memutar air dengan kincir atau mengurangi densitas dengan penggantian air.

5. Penggantian air adalah cara paling mudah untuk menurunkan kepadatan plankton pada kolam-kolam yang dikelola dengan sistem tertutup.
Pada kolam yang menggunakan sistem tertutup, penggunaan bahan kimia lebih sering dilakukan untuk mengontrol kepadatan. Harus diwaspadai jenis, dosis serta efek dari bahan kimia tersebut apabila diaplikasikan. Pada umumnya jenis yang digunakan adalah BKC (Benzal Konium Chloride) pada dosis 0.1-0.5 ppm serta formalin pada dosis 10 -20 ppm.

Pengapuran
Pengapuran dilakukan pada saat persiapan kolam. Pengapuran dilakukan jika tanah dasar kolam bereaksi masam (pH < 6,0) dengan cara dan dosis yang tepat agar tidak merugikan kehidupan ikan. Pengapuran dimaksudkan untuk meningkatkan pH tanah dasar kolam menjadi netral (pH 7,0) dan dapat berfungsi sebagai desinfektan. Dosis pengapuran harus disesuaikan dengan kondisi pH tanah dasar dan jenis kapur yang digunakan. Jenis kapur yang digunakan dapat berupa kapur sirih, kapur tohor, kapur tembok dan kapur karbonat/kapur giling.

Pada Tabel 5. berikut ini dicantumkan dosis pengapuran kolam per ha.
image