Home > Konservasi Tanah dan Air > Erosi dan Sedimentasi > Pengolahan Tanah Dengan Pembuatan Biophory

Pengolahan Tanah Dengan Pembuatan Biophory

Bila pengolahan tanah dikombinasikan dengan lubang biopori maka konservasi tanah akan berjalan dengan baik, Karena air yang semula sulit terinfiltrasi akan lebih mudah meresap kebawah. Biopori merupakan lubang yang dibuat dengan diameter 10 cm dan dalamnya 100 cm yang ditutupi/diisi sampah organik yang berfungsi untuk menjebak/menangkap/menampung air yang mengalir di sekitarnya sehingga dapat menjadi sumber cadangan air bagi air bawah tanah, tumbuhan di sekitarnya serta dapat juga membantu pelapukan sampah organik menjadi kompos yang bisa dipakai untuk pupuk tumbuh-tumbuhan.

Bila dicermati teknik biopori ini mirip dengan lubang-lubang sampah/jugangan (bahasa Jawa) yang dibuat orang kampong daerah Yogyakarta atau Jawa Tengah. Jugangan ini sering dibuat untuk wadah sampah yang jatuh dari pohon-pohonan dikebun sekitar rumah. Sering kali masyarakat membuat jugangan pada menjelang musim hujan. Setelah penuh dengan sampah lalu ditutup tanah dan ditanami pohon-pohonan, pisang dan lai-lain pada saat hujan telah tiba.

Tujuan / Fungsi / Manfaat / Peranan Lubang Resapan Biopori / LRB :
– Memaksimalkan air yang meresap ke dalam tanah sehingga menambah air tanah.
– Membuat kompos alami dari sampah organik daripada dibakar.
– Mengurangi genangan air yang menimbulkan penyakit.
– Mengurangi air hujan yang dibuang percuma ke laut.
– Mengurangi resiko banjir di musim hujan.
– Maksimalisasi peran dan aktivitas flora dan fauna tanah.
– Mencegah terjadinya erosi tanah dan bencana tanah longsor.

Tempat yang dapat dibuat / dipasang lubang biopori resapan air :
– Pada alas saluran air hujan di sekitar rumah, kantor, sekolah, dsb. Di sekeliling pohon.
– Pada tanah kosong antar tanaman / batas tanaman.

Cara Pembuatan Lubang Biopori Resapan Air :
 – Membuat lubang tanah berbentuk silindris dengan diameter 10 cm dan kedalaman 100 cm atau lebih. Jarak atar antar lubang antara 100 – 200 cm.
 – Mulut lubang dapat dikuatkan dengan semen setebal 2 cm dan lebar 3 -5 cm agar pinggiran lubang tidak runtuh serta diberikan pengaman berupa kawat anyaman agar air tetap masuk kelubang tetapi tidak memadat dan menghindari anak kecil atau orang yang terperosok.
 – Lubang diisi dengan sampah organik seperti daun, sampah dapur, ranting pohon, sampah makanan dapur non kimia, dsb. Sampah dalam lubang akan menyusut sehingga perlu diisi kembali dan di akhir musim kemarau dapat dikuras sebagai pupuk kompos alami.
 – Jumlah lubang biopori yang ada sebaiknya dihitung berdasarkan besar kecil hujan, laju resapan air dan wilayah yang tidak meresap air dengan rumus = intensitas hujan (mm/jam) x luas bidang kedap air (meter persegi) / laju resapan air perlubang (liter / jam).
image
Gambar 19. Biopori