Penyakit Virus Pada Udang

1) Penyakit virus IHHNV(Infectious Hypodermal and Hematopoitic Necrosis Virus), dapat menyebabkan :
a) Pertumbuhan terhambat, sehingga terjadi perbedaan ukuran yang nyata dalam satu populasi.
b) Serangan dapat mencapai lebih 30% populasi.
c) Multi infeksi dengan virus jenis lain.

Banyak terjadi pada tambak yang menggunakan benur non SPF (Spesific Pathogen Free) yaitu induk lokal. Inang penyakit virus ini antara lain : Penaeus stylirostris, P. vannamei, P. occidentalis, P. californiensis, P. monodon, P. semisulcatus, and P. japonicus.

2) Penyakit virus TSV (Taura Syndrome Virus) dapat menyebabkan
a) Udang vaname pada ujung ekor berwarna merah (merah ganda)
b) Adanya bercak hitam pada kulit,
c) Kulit lembek (lunak/keropos)
d) Kematian secara bertahap atau massal.

Virus taura (TSV) mempunyai inang antara lain : P.monodon, P. aztecus, P. duoderum, P. merguiensis, L.setiferus,L.stylirostris, L.vannamei. Virus ini berasal dari negara asal udang vaname dikembangkan. Apabila udang terinfeksi virus ini dapat sembuh, maka udang akan bersifat pembawa dan akan menularkan pada udang lain yang lemah.

3) Penyakit virus WSSV (White Spots Syndrome Virus) dan Invectious Hypodermal Haematopoetic Necrosis (IHHNV)
Gejala penyakit ini antara lain :
a) Diawali dengan nafsu makan yang tinggi (saat awal menyerang Tahun 1994), selanjutnya tidak mau makan.
b) Udang selalu kepermukaan air sepanjang pematang tambak.
c) Ada kematian di dasar, dalam waktu 3 – 7 hari udang habis
d) Adanya bintik-bintik putih di carapace.
e) Histopatologis Inclussion body intranuclear pada organ stomach

Di alam WSSV dapat menyerang P. monodon, P. japponicus, P. chinensis, P. indicus, P. merquensis, dan P. setiferus. Pada P. Monodon. WSSVmenyerang stadia post-larva (PL), calon induk/ukuran konsumsi (subadult) dan induk udang (adult). Kejadian infeksi terjadi setiap bulan tidak mengenal musim (kemarau maupun penghujan). Virus WSSV stabil pada suhu dan pH yang ekstrim dan kestabilannya akan bertambah di dalam lingkungan eksternal karena adanya perlekatan virion pada kristal pelindung protein virus (polyhedrin, granulin,s pheroidin).

Kristal pelindung ini akan melindungi virus dari pH yang tinggi di dalam saluran pencernaan udang (Walker, 1999). Infeksi yang terjadi pada stadia PL, calon induk dan induk terlihat gejala seperti nafsu makan menurun, udang tampak lemah (lethargy), sering kali terlihat malas berenang, udang yang di pelihara di tambak terlihat berenang di tepi tambak. Karapas udang yang sakit terlihat bercak putih, dan menjadi lunak, badan induk udang warnanya menjadi merah.

Gejala seperti ini sama dengan yang dikemukakan oleh Momoyama et al. (1997); Lo & Kou (1998); Sudha et al. (1998) bahwa udang yang terinfeksi WSSV mengalami perubahan pada pola tingkah laku yaitu menurunnya aktivitas renang, berenang tidak terarah dan seringkali berenang pada salah satu sisi saja. Selain itu, udang cenderung bergerombol di tepi tambak dan berenang ke permukaan. Pada infeksi akut terdapat bercak-bercak putih pada karapas dengan diameter 0,5-3,0 mm.

Bercak putih ini pertama kali muncul pada cephalothorax, segmen ke-5 dan ke-6 dari abdominal dan terakhir menyebar ke seluruh kutikula badannya (Kasornchandra & Boonyaratpalin, 1996; Wang et al., 1997a; Lo & Kou, 1998). Sedangkan Koesharyani et al. (2001) mengatakan bahwa induk udang yang berwarna kemerahan termasuk jugai nsang dan hepatopankreas, sewaktu diperiksa dengan metode PCR dari organ pencernaan, lymphoid, dan kaki renang menunjukkan positif terinfeksi WSSV.

Kejadian ini dapat menimbulkan kematianudang lebih dari 80% dalam rentang waktu satu minggu. Penelitian yang dilakukan oleh Peng et al.(1998) menyebutkan infeksi WSSV sangat patogenik pada kondisi udang yang diberikan stessor, hal ini karena mekanisme pertahanan tubuh pada udang tidak tidak dapat mencegah atau menahan perbanyakan WSSV di bawah kondisi stres. WSSV dapat menyebar dengan cepat ke berbagai organ seperti jantung, insang, epidermis, otot, maupun sistem pencernaan meski dalam jumlah yang kecil.