Home > Konservasi Tanah dan Air > Erosi dan Sedimentasi > Rehabilitasi Hutan dan Lahan

Rehabilitasi Hutan dan Lahan

Menurut Wahono (2002 : 3), lahan kritis adalah lahan yang sudah tidak berfungsi lagi sebagai pengatur media pengatur tata air, unsur produksi pertanian, maupun unsur perlindungan alam dan lingkungannya. Lahan kritis merupakan suatu lahan yang kondisi tanahnya telah mengalami atau dalam proses kerusakan fisik, kimia atau biologi yang akhirnya membahayakan fungsi hidrologi, orologi, produksi pertanian, pemukiman dan kehidupan sosial ekonomi di sekitar daerah pengaruhnya (Ade Iwan Setiawan, 1996 : 19).

Rehabilitasi lahan merupakan suatu usaha memperbaiki, memulihkan kembali dan meningkatkan kondisi lahan yang rusak agar dapat berfungsi secara optimal baik sebagai unsur produksi, media pengatur tata air, maupun sebagai unsur perlindungan alam dan lingkungannya (Wahono, 2002 : 3). Menurut Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 41 tahun 1999, Rehabilitasi Hutan dan Lahan dimaksudkan untuk memulihkan, mempertahankan dan meningkatan fungsi hutan dan lahan sehingga daya dukung, produktifitas dan peranannya dalam mendukung sistem keidupan tetap terjaga.

Kegiatan Rehabilitasi Hutan dan Lahan diselengaarakan melalui kegiatan Reboisasi , Penghijauan , Pemeliharaan , Pengayan tanaman, atau Penerapan teknik konservasi tanah secara vegetatif dan sipil teknis pada lahan kritis da tidak produktif. Menurut Supriyanto (1996 : 1) Kegiatan reboisasi dan penghijauan pada umunya dilakukan pada tanah kritis dan areal bekas pembalakan. Kedua kegiatan tersebut memerlukan bibit dalam jumlah besar dan berkualitas baik.

Cara-cara rehabilitasi lahan
Pemilihan tanaMan penutup untuk rehabilitasi lahan didasarkan pada fungsinya, yakni:
– Menghasilkan bahan hijauan berjumlah banyak dan becrkadar N tinggi (2-6%), sehingga dalam waktu pendek dapat terjadi dekomposi dan dapat meningkatkan kadar bahan organik tanah
– Meningkatkan aktivitas biologi tanah yang langsung memperbaiki struktur dan aerasi tanah
– Melindungi tanah dari daya rusak air hujan yang menimbulkan erosi ; dan
– Dapat mengikat unsur N dari udara sehingga keperluan akan pupuk sintesis seperti urea dapat ditekan.

Beberapa tanaman penutup yang telah diuji dan punya prospek baik adalah Centrocema pubescen, Pueraria javanica dan Pueraria phaseloides. Untuk tanah gundul atau hampir gundul tanah hanya perlu diolah dalam jalur selebar 20 cm dengan jarak antar jalur 1 m. Biji Centrocema disebar dalam baris, dennga diberi pupuk TSP sebanyak 50 kg/ha Biji Centrocema diperlukan sekitar 15 kg/ha. Untuk lahan yang ditumbuhi alang-alang dua minggu sebelum dilakukan pengolahan tanah perlu dilakukan penyemprotan dengan herbisida Roundup atau Dewpont.

Sesudah tanaman penutup tanah berumur satu tahun biasanya telah terbentuk serasah yang cukup tebal sehingga lahan sudah siap untuk ditanami kembali. Tanaman penutup tersebut kemudian dibabat sampai di permukaan tanah, kemudian ditebar di permukaan lahan sebagai mulsa. Pembakaran terhadap sisa penutup tanah yang telah kering mengakibatkan usaha rehabilitasi yang telah dilakukan menjadi sia-sia. Sebagaimana diketahui pembakalan mengakibatkan berbagai kerugian unsur hara N cepat menguap pupuk K meskipun cepat tersedia tetapi juga terganggunya aktivitas biologi sehingga pembentukan struktur lambat pula.