Home > Pengelolaan Kualitas Air > Penyakit Budidaya Perairan > Serangan Bakteri Pada Budidaya Ikan

Serangan Bakteri Pada Budidaya Ikan

A. Pasteurella piscicida
Pasteurella piscicida adalah bakteri yang berbentuk batang pendek, berukuran 0,6-1,2 x 0,8-2,6 μm, bersifat gram negatif, tidak bergerak, tidak membuat kapsul maupun spora dan bersifat fakultatif anaerob.
Bakteri ini dapat hidup di lingkungan air laut dengan kisaran suhu untuk pertumbuhannya 10-39oc. Umumnya yang diisolasi dari ikan dapat tumbuh baik pada suhu 25oC. Pasteurella piscicida dilaporkan menyerang ikan-ikan laut antara lain ikan ayu (Plecoglossus altivelis), ikan black seabream (Mylio macrocephalus), ikan red seabrearn (Pagrus major), ikan kerapu merah (Epinephelus akaara), ikan yellow tail (Seriola quinquiradiata) dan ikan menhaden (Brevoortia patronus), sedangkan Aerococcus virridans dilaporkan meyerang lobster Amerika.

Gejala yang terlihat akibat serangan pada ikan adalah
a) Warna tubuh menjadi gelap,
b) Pendarahan pada tutup insang dan sirip, serta
c) Luka pada ginjal dan limpa.

B. Streptoccocus sp.
Streptoccocus sp. Adalah bakteri yang berbentuk bulat atau oval, memanjang seperti rantai, berdiameter 0,7-1,4 μm, bersifat gram positif, tidak bergerak, tidak membentuk spora atau kapsul dan bersifat fakultatif aerob. Bakteri ini dapat hidup di air tawar dan air laut dengan kisaran suhu bagi pertumbuhannya antara 10-45oC.

Stireptococcus dilaporkan menyerang jenis-jenis ikan air tawar dan laut antara lain rainbow trout (Onchorhynchusmykiss), sea trout (Cynoscionregalis), silver trout (Cynoscionnothus), golden shiner (Notemigonuscrysoleucas), yellow tail (Seriolaquinquiradiata), menhaden (Brevoortiapatronus), Sea Catfish (Ariusfelis), striped mullet (Mugil cephalus), pinfish (Lagodon rhomboides), Atlantic croaker (Macropogon undulatus), spot (Leiostomus exanthus), Sting ray (Dasyatis sp.), Dolphin air tawar (Iniageoffrensis), Sidat (Angulla japonica), Ayu (Leicoglossus altivelis), Amago salmon (Onchorhynchus rhodurus), Jacopever (Paralichthys olivaceus), Striped bass (Morone saxatilis), Blue fish (Pomatomous saltatic), Siganids (Siganus cahaliculatus), Sea Bream (Pagrus major), tilapia (Oreochromis sp.) dan Channel catfish (Ictalurus punctatus).

Ikan yang terserang menunjukkan gejala seperti
a) Mata menonjol,
b) Pendarahan pada kelopak mata,
c) Ginjal membengkak,
d) Hati menjadi merah tua dan
e) Kerusakan usus.

C. Yersinia ruckeri
Yersinia ruckeri adalah bakteri berbentuk batang, dengan ukuran 0,5-0,8 x 1,3 μm, bersifat gram positif, tidak membentuk spora atau kapsul, bergerak dengan flagella peritrichous pada suhu di bawah 30oc, sedangkan pada suhu 37oc tidak membentuk flagella. Bakteri ini dapat dijumpai di air dengan suhu optimal pertumbuhannya 22-25oC.
Yersinia ruckeri dilaporkan menyerang ikan famili Salmonidae, dan cirri cirri ikan yang terserang adalah :
a) Terlihat lamban,
b) Warna tubuh menjadi gelap
c) Cairan kuning pada usus,
d) Perut berisi cairan yang tidak berwarna,
e) Pendarahan pada otot dan organ dalam, serta
f) Radang pada bagian tertentu seperti mulut, langit-langit, tutup insang dan pangkal sirip.

D. Aerococcus viridans (var.) homari
Aerococcus viridans (var.) homari adalah bakteri yang berbentuk bulat, ada yang berpasangan atau seperti rantai, bersifat gram positif, tidak bergerak dan tidak membentuk spora. Bakteri ini dapat ditemukan di air tawar atau juga air laut. Aerococcus viridans cara penularannya melalui ikan yang sakit. Tanda-tanda klinis akibat serangan pada lobster tidak jelas, kadang-kadang terlihat warna merah muda pada perut bagian atas.
Serangan penyakit mempunyai dampak negatif yang segera dapat dirasakan, seperti misalnya kerugian ekonomi yang tinggi.

Pada akhir tahun 1980, di Indonesia terjadi kematian sebanyak 125 ribu ekor ikan mas dan 30% induk ikan, terjadi di daerah budidaya di Jawa Barat diakibatkan oleh serangan bakteri Aeromonas spp. antara lain A. salmonicida dan menyebabkan penurunan produksi sehingga kerugian mencapai kira-kira 4 milyar rupiah. Pada tahun 1989, di Skotlandia terjadi wabah furunculosis sebanyak 15 kali pada ikan-ikan air tawar dan 127 kali pada ikan-ikan air laut.

Pasteurella piscicida dilaporkan telah menyebabkan kematian masal ikan ekor kuning (Seriola sp.) di Jepang dengan kerugian sebesar 10 juta poundsterling atau 30 milyar rupiah. Edwardsiella tarda merupakan penyebab penyakit bakteri yang paling serius pada budidaya ikan sidat di Taiwan dan Jepang, sedangkan E. ictaluri pada akhir tahun 1980 dilaporkan telah menyebabkan kematian masal (lebih dari 50%) anak ikan dan induk ikan lele Amerika di AS. Kerugian yang ditimbulkan mencapai puluhan juta dolar atau puluhan milyar rupiah.

Pada tahun 1970 sampai 1980-an, di Jepang tejadi wabah akibat serangan Streptococcus pada ikan ekor kuning, sidat, ayu dan tilapia yang menimbulkan kerugian sejumlah 30 juta poundsterling atau kira-kira 90 milyar rupiah. Pencegahan sebaiknya dilakukan untuk menghindari tejadinya kerugian besar yang dapat ditimbulkan akibat serangan bakteri. Tindak karantina mutlak diperlukan dalam usaha pencegahan masuknya jenis-jenis bakteri bersama ikan impor yang sebelumnya tidak terdapat di Indonesia.

Selain itu karantina juga mencegah menyebarnya jenis bakteri yang sudah terdapat di daerah pulau tertentu ke daerah / pulau lainnya di dalam wilayah Indonesia. Dengan meningkatkan system dan tindakan-tindakan karantina ikan di Indonesia maka usaha peningkatan produksi perikanan dan penyelamatan sumberdaya ikan diharapkan semakin berhasil.