Home > Penanaman Rumput Laut > Penyakit Rumput Laut > Serangan Bakteri Pada Rumput Laut

Serangan Bakteri Pada Rumput Laut

Bakteri yang dapat diisolasi dari rumput laut dengan gejala ice-ice antara lain adalah Pseudomonas spp., Pseudoalteromonas gracilis, dan Vibrio spp. Agarase (arginase) dari bakteri merupakan salah satu faktor virulen yang berperan terhadap infeksi ice-ice (Yuan, 1990). Faktor-faktor predisposisi atau pemicu lainnya juga dapat menyebabkan ice-ice. Predisposisi itu antara lain adalah serangan hama seperti ikan baronang (Siganus spp.), penyu hijau (Chelonia midas), bulu babi (Diadema sp.) dan bintang laut (Protoneostes) yang menyebabkan terjadinya luka pada thallus.

Luka akan memicu terjadinya infeksi sekunder oleh bakteri. Pertumbuhan bakteri pada thallus akan menyebabkan bagian thallus tersebut menjadi putih dan rapuh. Selanjutnya, pada bagian tersebut mudah patah dan jaringan menjadi lunak. Infeksi ice-ice menyerang pada pangkal thallus, batang dan ujung thallus muda, menyebabkan jaringan menjadi berwarna putih. Pada umumnya penyebarannya secara vertikal (dari bibit) atau horizontal melalui perantara air.

Infeksi akan bertambah berat akibat serangan epifit yang menghalangi penetrasi sinar matahari karena thallus rumput laut tidak dapat melakukan fotosintesa. Darmayanti et al., (2001) juga menjelaskan bahwa dari sampel rumput laut yang diambil dari budidaya Kappaphycus alvarezii, baik yang sakit atau yang sehat ditemukan bakteri kelompok vibrio dari jenis Aeromonas sp. Largo et al., (1995) dalam penelitian rumput laut pada budidaya marga Kappaphycus maupun Eucheuma di Filipina menemukan bakteri kelompok vibrio dan Cyatophaga-Flavobakterium yang lebih dominan.

Selain dari kelompok terebut juga menemukan bakteri Aeromonas pada (Sargassum dan Thalassia). Dari hasil penelitian tersebut ada suatu kompetisi antar bakteri pada kondisi tertentu di lingkungannya yang dapat menyebabkan penyakit. Uyenco et al., (1981) mengemukakan bahwa penyakit ice-ice timbul karena menurunnya substansi pelindung intraseluler pada saat rumput laut mengalami tekanan lingkungannya. Beberapa peneliti menyebutkan bahwa timbulnya penyakit pada rumput laut karena adanya perubahan lingkungan yaitu menurunnya salinitas dan intensitas cahaya.

Pada umumnya penyakit ice-ice yang menyerang pada budidaya Eucheuma striatum di Maluku Tenggara bahwa munculnya penyakit ice-ice terjadi pada saat awal musim barat (pergantian musim timur ke barat).

image

Gambar 25. Penyakit yang menyerang budidaya rumput laut

Kepadatan bakteri pada rumput laut yang sakit tersebut 10 – 100 kali lebih banyak dibanding kepadatan bakteri pada K. alvarezii yang sehat. Largo et. al. (1999) juga menjelaskan mekanisme terinfeksinya, dimana bakteri vibrio menempel pada thallus rumput laut yang stres, selanjutnya berkembang biak pada dinding sel dengan memanfaatkan polisakarida (karagenan) sebagai medianya atau sumber karbonnya. Setelah 2 – 3 hari vibrio masuk ke dalam jaringan sampai pada lapisan medula dengan cara menghidrolisa enzim karaginase (Lin dalam Weinberger 2007), akibatnya budidaya makro algae Kappaphycus alvarezii warna thallus menjadi pucat/putih, jaringannya lembek serta thallus mudah terputus.