Home > Konservasi Tanah dan Air > Teknik Konservasi > Teknik Konservasi Secara Mekanik Teras

Teknik Konservasi Secara Mekanik Teras

Dengan kondisi lahan/topografi yang miring dan berbukit-bukit, memungkinkan terjadinya erosi/penghanyutan tanah yang berada di atas ke lahan-lahan berada di bawahnya saat musim penghujan tiba. Hal ini telah disadari oleh masyarakat, mereka membuat teras-teras dilahan untuk mencegah hanyutnya tanah oleh air. Pembuatan terasering/talud ini dilakukan secara individu maupun gotong royong. Di empat dusun mitra Arupa di Desa Girisekar, kesadaran untuk menjaga tanah dari erosi dengan membuat/memperbaiki terasering juga dilakukan oleh masyarakat.

Pengerjaan pembuatan/perbaikan terasering ini diawali dengan pertemuan-pertemuan kelompok terlebih dahulu untuk membahas rencana perbaikan/pembuatan teras dan prioritas lahan yang harus sesegera mungkin untuk dilakukan perbaikan/pembuatan. Setelah disepakati bersama, mereka menentukan jadwal/waktu untuk mengerjakan perbaikan/pembuatan talud. Setelah perbaikan/pembuatan talud selesai dilakukan masyarakat menanami sekitar talud/terasering tersebut dengan tanaman-tanaman yang bisa menghambat aliran tanah akibat erosi.

Contoh tanaman yang ditanam oleh masyarakat disekitar talud adalah rumput gajah/rumput kolonjono selain tanaman keras lain hal ini dilakukan oleh anggota Kelompok Tani Hutan Rakyat (KTHR) Subur Dusun Jeruken dan anggota KTHR Arum Jati Dusun Waru. Penghijauan/reboisasi juga dilaksanakan sebagai upaya untuk merehabilitasi lahan kritis yang berada di wilayah dusun mereka. Hal ini dilakukan oleh Kelompok Tani Sido Ijo yang merupakan rumpun konservasi dari KTHR Sekar Eko Jati Dusun Blimbing, jenis tanaman penghijauan yang ditanam antara lain bibit jati, mahoni, akasia.

KTHR Trubus dusun Pijenan melakukan penanaman bibit Sukun dan bibit pisang dengan tujuan jangka panjang. Selain dari keuntungan konservasi yang dilakukan yaitu menahan erosi tanah, masyarakat juga mendapatkan keuntungan dengan penanaman palawija maupun rumput-rumput gajah yang ditanam di bawah tegakan yang nantinya bisa dipanen dan dinikmati oleh anggota KTHR maupun untuk KTHR sendiri.
image
Gambar 21. Pembuatan terasering

Salah satunya adalah teknologi tradisional terasering dan subak. Cara tanam terasering ini selain membuat hamparan sawah terlihat sangat mempesona di tanah berundak ternyata juga menyimpan sejuta makna. Cara tanam terasering memang dimaksudkan untuk memanfaatkan dan juga untuk mengoptimalkan lahan di perbukitan yang terjal. Selain itu juga bisa menjadi teknik untuk mengendalikan longsor mekanis. Pendekatan secara mekanis sering kali dianggap menjadi pilihan yang tepat ketika tumbuhan dianggap kurang memadai untuk mencegah terjadi pengikisan tanah.

Keindahan persawahan terasering ini juga membuat para pengunjung lokal dan juga para pengunjung mancanegara terpesona. Bahka beberapa lahan persawahan di Bali juga sudah terkenal di dunia termasuk Tegalalang dan Jatiluwih yang juga dilindungi oleh UNESCO sebagai salah satu warisan budaya dunia. Selain cara bercocok tanam yang unik ini, masyarakat Bali juga mengadopsi distribusi pengairan yang disebut Subak.

Sistem pengairan subak ini sudah terkenal sejak ratusan tahun yang lalu yang terbukti mampu meningkatkan produktivitas lahan pertanian di Pulau Bali. Sistem pengairan subak ini pulalah masyarat Bali mendapatkan jatah air sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Dan ketentuan yang berlaku ini didapatkan dari hasil musyawarah warga desa. Sistem pengairan subak juga dibangunkan pura yang mana pura akan diatur oleh pemuka adat yang juga seorang petani.

Pura untuk subak ini dinamakan Pura Uluncarik atau Pura Bedugul ini diperuntukkan bagi Dewi Kemakmuran dan kesuburan, Dewi Sri. Selain itu subak merupakan penerapan dari konsep Tri Hita Karana. Atau hubungan harmonis antara manusia dan Tuhan, manusia dan alam serta hubungan antara manusia dengan manusia. Kegiatan sistem pengairan subak ini tidak hanya melulu tentang pengairan saja tetapi juga meluas hingga masalah ritual dan juga untuk peribadatan memohon rezeki yang berlimpah.
image
Gambar 22. Sistem Subak di Bali