Teknik Pengambilan Sampel

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mengambil sampel adalah :
1) Fiksasi
Fiksasi merupakan proses pengawetan sampel dengan menggunakan bahan pengawet agar material yang diambil dapat diproses dengan teknik PCR. Prinsip pemilihan jenis pengawet :
a) Mudah dalam penanganan, penyimpanan, dan transportasi,
b) Tidak mengurangi sensitifitas diagnosis,
c) Mudah didapat dan relatif murah.

Ada 2 cara pengawetan yang umum digunakan yaitu
a) Fiksasi dalam larutan alkohol,
b) Pembekuan dalam suhu di bawah -20oC.
Masing-masing teknik memiliki kelebihan dan kekurangan. Namun disarankan agar dalam proses pengawetan ini menggunakan larutan alkohol 70% dengan perbandingan volume sampel dibanding pengawet 1 : 10.

2) Peralatan Sampling
Peralatan sampling yang dimaksud adalah peralatan yang langsung digunakan dalam pengambilan sampel yaitu botol sampel dan alat bedah. Setiap peralatan yang akan digunakan harus didesinfeksi terlebih dahulu. Proses desinfeksi alat bedah dimulai dari :
a) Membersihkan peralatan dengan kertas tissue
b) Dibilas dengan akuades
c) Desinfeksi dengan alkohol 70%
d) Pemanasan dengan api bunsen

3) Cara Sampling
Sampling yang benar harus memperhatikan jenis dan jumlah sampel. Sampel dapat diambil dari benih, ikan dewasa, dan induk. Sampel dari benih berupa tubuh secara utuh, sedangkan dari ikan dewasa dan induk dapat berupa insang. Jumlah minimal sampel yang diambil tergantung tingkat pravelensi ikan yang terinfeksi penyakit virus, namun demikian untuk diagnosa kasus penyakit virus denga teknik PCR didasarkan pada pengalaman empiris.
Jumlah sampel dari populasi dengan jumlah lebih dari 100.000 ekor, adalah ;
a) Untuk benih 150 ekor
b) Untuk ikan dewasa sebanyak 5 ekor,
c) Untuk induk dilakukan sampling individu (diambil irisan insang tanpa mematikan induk).

3) Cara Sampling
Sampling yang benar harus memperhatikan jenis dan jumlah sampel. Sampel dapat diambil dari benih, ikan dewasa, dan induk. Sampel dari benih berupa tubuh secara utuh, sedangkan dari ikan dewasa dan induk dapat berupa insang. Jumlah minimal sampel yang diambil tergantung tingkat pravelensi ikan yang terinfeksi penyakit virus, namun demikian untuk diagnosa kasus penyakit virus denga teknik PCR didasarkan pada pengalaman empiris.
Jumlah sampel dari populasi dengan jumlah lebih dari 100.000 ekor, adalah ;
a) Untuk benih 150 ekor
b) Untuk ikan dewasa sebanyak 5 ekor,
c) Untuk induk dilakukan sampling individu (diambil irisan insang tanpa mematikan induk).

Teknik Pengiriman Sampel
Sampel ikan yang telah dikumpulkan dan diawet dengan alkohol 70% – 90%, perlu segera dikirim ke laboratorium terdekat yang mampu melakukan diagnosis penyakit virus dengan teknik PCR. Sampel harus dikemas sebaik mungkin sehingga tidak bocor selama pengiriman. Munculnya penyakit pada ikan merupakan hasil interaksi kompleks antara 3 komponen dalam ekosistem perairan yaitu ikan yang lemah, patogen ganas, dan kualitas lingkungan yang buruk. Oleh karena itu strategi manajemen kesehatan ikan harus difokuskan pada upaya pembenahan yang dilakukan secara terintegrasi.

Teknik pengendalian
Penyediaan benih untuk daerah yang bebas penyakit virus harus diambilkan dari daerah yang bebas penyakit virus. Sedangkan penyediaan benih untuk daerah yang telah terinfeksi penyakit virus diambilkan benih yang dihasilkan dari induk yang selamat pada saat terjadi wabah sebab benih yang dihasilkan dari induk itu dianggap telah memiliki kekebalan terhadap penyakit virus.

Eradikasi Patogen
Merupakan kegiatan pemusnahan virus dari media pembawa (air dan karier). Daerah yang telah terinfeksi penyakit KHV harus dilakukan eradikasi terutama pada sistem budidaya tertutup.