Benda-benda peralatan untuk kebutuhan sehari-hari atau untuk peralatan upacara, khususnya milik kaum bangsawan atau kerajaan banyak mendapat sentuhan khusus, dihias sesuai dengan ekspresi yang ingin diwujudkan. Kaum bangsawan dan para raja menghias senjata perlengkapan hias sebagai simbol kebesaran dengan batu permata dan logam emas atau perak serta batu mulia. Ornamen hias yang berupa ragam hias flora, unsur-unsur geometris (segi empat-segi tiga-lingkaran dan lainnya) juga banyak disertakan untuk menghias peralatan upacara, peralatan dapur dan berbagai jenis peralatan kebutuhan hidup.<\/p>\n
Batu permata, berlian, mutiara dan batu mulia digunakan sebagai bahan penghias senjata kebesaran, perhiasan perlengkapan wanita maupun mahkota yang dikenakan oleh para Raja. Semua itu menunjukkan bahwa kriya telah berkembang sejak masa lalu sampai masa kini. Potensi pengembangan kriya di Indonesia sangat memungkinkan untuk lebih berkembang, menurut Prof.Grant Hannan,dekan fakultas RMIT Australia, 2002 menulis bahwa ada kurang lebih 100.000 sampai dengan 200.000 industri kriya di Indonesia.<\/p><\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"
Setelah itu kebudayaan Indonesia mendapat pengaruh kebudayaan India, kebutuhan akan artefak guna memenuhi kebutuhan hidup meningkat. Karena pengetahuan teknologi berkembang maka hasil seni kriya mulai bervariasi baik dalam teknik, bentuk maupun fungsi. Periode tersebut dinamakan zaman klasik atau zaman Hindu Buda yang berlangsung dari abad ke VIII \u2013 X Masehi. Bukti-bukti peninggalan berupa prasasti yang …<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[57],"tags":[7116,7120,7117,7124,7118,7119,7123,7125,7121,7122],"class_list":["post-1988","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-seni-kriya","tag-kebudayaan-seni","tag-kebudayaan-seni-china","tag-kebudayaan-seni-india","tag-kebudayaan-seni-indonesia","tag-kebudayaan-seni-jepun","tag-kebudayaan-seni-mesir","tag-kebudayaan-seni-rupa","tag-kebudayaan-seni-sunda","tag-kebudayaan-seni-tari","tag-kebudayaan-seni-tari-indonesia"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.tneutron.net\/blogs\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1988","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.tneutron.net\/blogs\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.tneutron.net\/blogs\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.tneutron.net\/blogs\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.tneutron.net\/blogs\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1988"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.tneutron.net\/blogs\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1988\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":9559,"href":"https:\/\/www.tneutron.net\/blogs\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1988\/revisions\/9559"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.tneutron.net\/blogs\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1988"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.tneutron.net\/blogs\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1988"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.tneutron.net\/blogs\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1988"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}