Pengolahan slip tanah liat untuk pembentukan keramik cetak tuang sebenarnya hampir sama dengan penyiapan bahan tanah liat untuk teknik pembentukan lainnya, perbedaannya pada penambahan bahan yang disebut deflocculant, bahan ini memungkinkan partikel tanah liat tetap dalam suspensi cairan dan tidak membentuk endapan pada dasar cetakan.<\/p>\n
Dalam prosesnya bahan ini akan diserap oleh cetakan dan menempel pada dinding cetakan, setelah bebarapa menit kelebihan slip tanah liat dikeluarkan, dengan proses ini dapat terbentuk benda- benda keramik berongga dengan ketebalan dinding yang relatif sama.<\/p>\n
Pada industri keramik teknik pembentukan ini sangat diperlukan untuk dapat memproduksi keramik secara massal, karenanya keterampilan menyiapkan bahan cetak tuang menjadi syarat penting untuk dapat melakukan teknik pembentukan dengan cetak tuang.<\/p>\n
Massa slip cetak tuang biasanya digunakan untuk mencetak benda keramik tiga dimensional, dengan menggunakan cetakan dua belahan atau lebih sehingga benda yang dihasilkan mempunyai rongga dan memiliki ketebalan dinding yang relatif sama. Teknik cetak tuang tersebut di atas sering disebut dengan istilah hollow casting.<\/p>\n
Tanah liat alam seperti misalnya jenis earthenware maupun stoneware maupun bahan mineral terolah seperti: kaolin, feldspar, whiting (kapur), kuarsa, ball clay, bentonite, dan lain- lain dapat digunakan untuk membuat formula (resep) badan tanah cetak tuang seperti: earthenware, stoneware, white earthenware, white stoneware, soft porcelain, dan porcelain.<\/p>\n
Bahan tersebut harus dalam kondisi kering dan sebaiknya adalah bahan- bahan yang sudah digiling halus, hal ini dimaksudkan agar penimbangan dapat lebih akurat sehingga mendapatkan kekentalan slip tanah liat secara tepat.<\/p>\n
Bahan deflokulan merupakan bahan elektrolit seperti alkali dalam silicate (biasanya sodium) atau carbonate (soda abu). Perubahan elektrolit akan merubah molekul atau partikel tanah saling menolak satu sama lain, membantu penyebaran partikel dalam cairan slip, meningkatkan fluiditas, serta membantu suspensi partikel dan mengurangi penyusutan dalam badan keramik, dengan demikian partikel tanah liat tidak mengelompok yang akan dapat mempercepat pengendapan. Di samping itu, juga dapat mengurangi jumlah sedikitnya 25% air yang diperlukan dengan tingkat kecairan yang sama.<\/p>\n
Deflocculant yang digunakan dapat berupa sodium silikat (waterglass), sodium hidroksida (soda abu), dan sodium carbonate. Jumlah deflocculant yang diperlukan hanya sedikit biasanya antara 0,2%-0,5% dari jumlah tanah liat kering yang dipakai, sedangkan jumlah air sekitar 35%- 50%. Jumlah deflocculant untuk tanah jenis earthenware biasanya digunakan sekitar 0,25% sampai 0,50% dari jumlah berat kering.<\/p>\n
Penggunaan yang terlalu banyak akan membuat cetakan mudah rapuh serta hasil cetakan yang lebih sulit dipotong atau dirapikan. Yang perlu pertimbangan adalah bagaimana mengurangi kandungan air pada cetakan tetapi juga menjaga tingkat kecairan dari slip tanah liat tersebut. Ada beberapa bahan kimia yang lazim digunakan sebagai deflokulan, yaitu:
\n1. Sodium silikat\/waterglass (2Na2O.SiO2); penambahan pada slip tanah liat antara 0,2%-0,5% berat tanah liat kering.
\n2. Sodium carbonate\/soda ash (Na2CO3); penambahan pada slip tanah liat lebih sedikit dibanding sodium silikat.
\n3. Sodium polyacrylat; penambahan pada slip tanah liat antara 0,3%-0,5% berat tanah liat kering.
\n4. Calgon.
\n5. Dispex (kombinasi produk sodium silicate dan soda ash)
\n6. Darvan (equivalen dengan dispex), keuntungan produk ini tidak mudah diserap oleh cetakan sehingga dapat memperpanjang umur cetakan<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"
Pengolahan slip tanah liat untuk pembentukan keramik cetak tuang sebenarnya hampir sama dengan penyiapan bahan tanah liat untuk teknik pembentukan lainnya, perbedaannya pada penambahan bahan yang disebut deflocculant, bahan ini memungkinkan partikel tanah liat tetap dalam suspensi cairan dan tidak membentuk endapan pada dasar cetakan. Dalam prosesnya bahan ini akan diserap oleh cetakan dan menempel …<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[63],"tags":[4215,4216,4217,4220,3539,4218,3541,4219,3535,3534],"class_list":["post-1994","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-clay-body","tag-cetak-tuang","tag-cetak-tuang-adalah","tag-cetak-tuang-berongga","tag-contoh-kerajinan-cetak-tuang","tag-contoh-teknik-cetak-tuang","tag-metode-cetak-tuang","tag-peralatan-teknik-cetak-tuang","tag-proses-pembentukan-cetak-tuang","tag-teknik-cetak-tuang-a-cire-perdue","tag-teknik-cetak-tuang-berulang"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.tneutron.net\/blogs\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1994","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.tneutron.net\/blogs\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.tneutron.net\/blogs\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.tneutron.net\/blogs\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.tneutron.net\/blogs\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1994"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.tneutron.net\/blogs\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1994\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":9272,"href":"https:\/\/www.tneutron.net\/blogs\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1994\/revisions\/9272"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.tneutron.net\/blogs\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1994"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.tneutron.net\/blogs\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1994"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.tneutron.net\/blogs\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1994"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}