Lebih jauh lagi, pengrajin dan kaun perempuan yang terlibat dalam pergerakan sangat aktif di bidang lintas keterampilan(skill): seperti arsitek, tenaga percetakan, penjilid buku, pembuat keramik, pembuat perhiasan, pelukis, pematung, pembuat mebel. Beberapa anggota pergerakan, seperti desainer William Morris (1834-1896) dan C.R Ashbee(1863-1942), menghargai karya kerajinan tangan (handycraft) dan cenderung menolak kesempatan baik untuk memproduksecara masal untuk keperluan pasar. Di lain pihak seorang arsitek Frank Lloyd Wright (1867-1959), secara pos itif sangat menyukai keuntungan-keuntungan sosial dan hal-hal kreatif mesin produksi.<\/p>\n
Pada tahun 1870 an, pergerakan perkembangan \u2018seni\u2019 dan \u2018kriya\u2019 semakin beraneka ragam, ketika kebangkitan minat terhadap seni dan kriya di Inggris dieksport dan tertanam hingga ke dalam karya-karya asli seni tradisionil di negara lain. Di Amerika Serikat, kebangkitan karya tradisional daya tarik gaungnya bagi warga negaranya adalah dengan adanya daya tarik politis yang kuat, sifat individualis, dan juga terhadap barang buatan tangan atau tenunan buatan sendiri.<\/p>\n
Thomas Carlyle (1795-1881) atu Ruskin, menulis tentang sisi menakutkan dengan adanya era industrialsasi dan menggambarkan juga tentang keadaan kehidupan penduduk abad pertengahan di Inggris. Komunitas Shaker membuat furnitur dan bangunan sederhana, yang gaungnya dapat mempengaruhi banyak lingkungan seniman idealis dan kreatif dalam masa pergerakan seni dan kriya. Friedrich Engels (1820-1895) memisahkan diri dari agama keyakinan kaum Shaker tetapi memuji kondisi masyarakat bawah di lingkungan terdekatnya, di mana karya mereka dibuat dan terjual.<\/p><\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"
Sudah sejak zaman prasejarah kita mengenal berbagai peninggalan berupa artefak, ada yang berupa peralatan, perhiasan dan sebagainya. Hasil karya tersebut dihasilkan karena ketrampilan seseorang dalam membuat dan mengubah bahan atau benda keperluan sehari-hari menjadi karya kriya, memang diakui bahwa keberadaan kriya sudah sejak lama dibedakan dengan karya seni. Seperti yang diuraikan sebelumnya, peristilahan tentang seni …<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[57],"tags":[2052,7114,7115,2056,2057,2059,2060,7112,7113,2061],"class_list":["post-5299","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-seni-kriya","tag-sejarah-kriya","tag-sejarah-kriya-anyaman","tag-sejarah-kriya-bordir","tag-sejarah-kriya-kayu","tag-sejarah-kriya-keramik","tag-sejarah-kriya-kulit","tag-sejarah-kriya-logam","tag-sejarah-kriya-nusantara","tag-sejarah-kriya-tekstil","tag-sejarah-kriya-ukir"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.tneutron.net\/blogs\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5299","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.tneutron.net\/blogs\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.tneutron.net\/blogs\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.tneutron.net\/blogs\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.tneutron.net\/blogs\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5299"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.tneutron.net\/blogs\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5299\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":9550,"href":"https:\/\/www.tneutron.net\/blogs\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5299\/revisions\/9550"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.tneutron.net\/blogs\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5299"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.tneutron.net\/blogs\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5299"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.tneutron.net\/blogs\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5299"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}