Wattmeter merupakan suatu alat ukur yang digunakan untuk mengetahui berapa besarnya daya listrik nyata pada beban yang sedang beroperasi dalam suatu sistem kelistrikan dengan beberapa kondisi beban, seperti beban DC, beban AC satu fasa serta beban AC tiga fasa. Dalam pengoperasiannya harus memperhatikan petunjuk yang ada pada manual book atau tabel yang tertera pada wattmeter. Demikian juga dalam hal pembacaannya harus mengacu pada manual book yang ada.<\/p>\n
Daya listrik dalam pengertiannya dapat dikelompokkan dalam dua kelompok sesuai dengan catu tenaga listriknya, yaitu daya listrik DC dan daya listrik AC.<\/p>\n
Daya listrik DC dirumuskan sebagai :<\/strong><\/p>\n P = V . I<\/b> Sedangkan Daya listrik AC terdapat dua macam yaitu: daya untuk satu fasa dan daya untuk tiga fasa, dimana dapat dirumuskan sebagai berikut :<\/p>\n Pada sistem satu fasa :<\/strong><\/p>\n P = V. I . cos \u03c6<\/b> Pada sistem tiga fasa :<\/b><\/p>\n P = 3 .V. I . cos \u03c6<\/b> Secara umum daya listrik mengandung unsur resistansi dan reaktansi atau impedansi kompleks sehingga daya yang diserap tergantung pada sifat beban. Hal tersebut dikarenakan yang menyerap daya adalah beban yang bersifat resistif, sedang beban yang bersifat reaktif tidak menyerap daya. Dengan demikian perkalian antara tegangan efektif dengan arus efektif adalah merupakan daya semu (S). Sedangkan besarnya daya nyata (P) adalah : Juga daya yang disebabkan oleh beban reaktif (Q), besarnya adalah : Hubungan antara ketiga daya nyata, daya semu dan daya reaktif dapat dilukiskan dengan segitiga daya berikut :
\nDimana :
\nP = Daya (Watt),<\/p><\/blockquote>\n
\nDimana :
\nV = Tegangan kerja (Volt),
\nI = Arus yang mengalir ke beban (Ampere)<\/p><\/blockquote>\n
\nDimana :<\/b>
\nV = Tegangan fasa netral (volt),<\/b>
\nI = Arus yang mengalir ke beban (Ampere)<\/b><\/p><\/blockquote>\n
\nS = V.I<\/b><\/p>\n
\nP = V . I . Cos <\/b>
<\/a><\/p>\n
\nQ = V . I . Sin <\/b>
<\/a><\/p>\n
\n
<\/a>
\nGambar 45. Segitiga Daya<\/p>\n