Tepung tapioka merupakan pati yang diekstrak dari singkong. Dalam memperoleh pati dari singkong (tepung tapioka) harus dipertimbangkan usia atau kematangan dari tanaman singkong. Sebagai contoh usia optimum tanaman singkong siap panen berdasarkan hasil percobaan terhadap salah satu varietas singkong yang berasal dari Jawa yaitu San Pedro Preto adalah sekitar 18-20 bulan (Grace, 1977). Ketika umbi singkong dibiarkan di tanah, jumlah pati akan meningkat sampai pada titik tertentu, lalu umbi akan mejadi keras dan menyerupai kayu, sehingga umbi akan sulit untuk ditangani ataupun diolah.<\/p>\n
1) Mutu Tepung tapioka Tabel 7. Persyaratan Standar Kualitas Tepung Tapioka Untuk pasar luar negeri, umumnya persyaratan kualitas standar tepung tapioka ditetapkan oleh negara pengimpor, misalnya ketentuan dari negara Amerika, India, dan Inggris. Persyaratan standar kualitas tepung tapioka untuk dapat diekspor ke Amerika ditetapkan dalam tiga tingkat yaitu A, B, dan C oleh negara Amerika, yang dapat dilihat pada Tabel 8.<\/p>\n Tabel 8. Persyaratan Standar Kualitas Tepung Tapioka untuk Dapat Diekspor ke Amerika Negara India membuat ketentuan kualitas tepung tapioka berdasarkan penggunaannya pada beberapa jenis industri, seperti terlihat pada Tabel 9.<\/p>\n
\n<\/strong>Mutu tepung tapioka ditentukan berdasarkan persyaratan standar yang ditetapkan oleh SII (Standar Industri Indonesia), atau standar lain yang berlaku dengan tujuan agar produk tepung tapioka yang dihasilkan dapat menembus pasar di dalam dan di luar negeri. Faktor yang menentukan kualitas atau mutu tapioka adalah parameter mutunya. Para meter mutu tapioka meliputi parameter fisik (bentuk, bau dan warna), parameter kimia (kadar air, kadar abu, serat kasar dan cemaran logam), parameter fisikokimia (derajat putih dan dan derajat asam), serta parameter mikrobiologi.
\nPersyaratan standar yang ditetapkan oleh SII dapat dilihat pada Tabel 7.<\/p>\n
\n
<\/a>
\n
<\/a><\/p>\n
\n
<\/a><\/p>\n