Kekentalan susu; susu akan berlendir bila terkontaminasi oleh kuman-kuman kokki yang berasal dari air, sisa makanan atau alat-alat susu.<\/li>\n<\/ul>\n6) Uji alkohol; uji ini dilakukan untuk memeriksa dengan cepat derajat keasaman susu segar. Prinsipnya adalah kestabilan sifat koloidal protein-protein susu tergantung pada selubung air yang menyelimutinya. Hal ini terutama pada kasein. Bila susu dicampur dengan alkohol yang mempunyai sifat dehidrasi maka protein tersebut akan terkoagulasi sehingga susu tersebut akan pecah. Semakin tinggi derajat keasaman susu yang diperiksa, maka akan semakin rendah jumlah alkohol dengan kepekatan tertentu yang diperlukan untuk memecahkan susu dengan volume yang sama. Percobaan mulai positif pada derajat asam 8 – 90 SH<\/p>\n
7) Pengujian cemaran mikroba; Pengujian cemaran mikroba dalam susu segar adalah bertujuan sebagai indikator sanitasi dalam roses produksi atau penanganan susu serta sebagai indikator kesehatan dan keamanan susu. Berbagai macam uji mikrobiologi dapat dilakukan, meliputi uji kuantitatif mikroba untuk menentukan kualitas, uji kualitatif bakteri patogen untuk menentukan tingkat keamanannya, serta uji bakteri indikator untuk menentukan tingkat sanitasi susu tersebut. Pengujian cemaran mikroba meliputi:<\/p>\n
a) Penentuan angka lempeng total pada 35o<\/sup>C; Prinsipnya adalah Angka lempeng total (Total Plate Count) dimaksudkan untuk menunjukkan jumlah mikroorganisma yang terdapat dalam susu dengan metoda hitungan cawan. Jika sel mikroba yang masih hidup ditumbuhkan pada medium agar, maka sel mikroba tersebut akan berkembang biak dan membentuk koloni yang dapat dilihat langsung dengan mata tanpa menggunakan mikroskop.<\/p>\nb) Penghitungan Coliform dan Escherichia coli; Prinsipnya adalah Kristal violet dan garam empedu yang ada di media akan menghambat bakteri Gram positif lainnya sehingga hanya organisme coliform yang tumbuh. Selama pertumbuhannya, coliform akan mengubah laktosa menjadi asam dan perubahan ini<\/p>\n
akan dideteksi oleh indikator neutral red yang akan berubah warnanya menjadi merah. Selain itu keadaan asam akan menyebabkan presipitasi asam empedu.
\nc) Penghitungan Staphylococcus aureus dengan metoda hitungan cawan; Metoda ini digunakan untuk menghitung jumlah S. aureus lebih besar dari 100 sel S. aureus per ml\/gram contoh. Metoda yang biasa digunakan adalah metoda sebar\/permukaan. Prinsipnya adalah Manitol akan diubah oleh Staphylococcus yang tumbuh menjadi asam dan susuana asam ini akan mengubah indikator phenol red menjadi kuning. Tellurite yang ada akan menjadi tellurite yang berwarna hitam.<\/p>\n
8) Pengujian residu antibiotik secara kualitatif dan semi kuantitatif dengan uji skrining. Prinsipnya adalah Sampel susu dihomogenisasi. Tetesi kertas cakram dengan sampel susu, lalu letakkan kertas cakram tersebut di atas permukaan media agar yang telah dicampur dengan biakan bakteri uji dan diinkubasikan pada suhu 370<\/sup> C selama 16-18 jam. Contoh susu dinyatakan positif mengandung residu antibiotika bila terbentuk zone hambatan di sekitar kertas cakram.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"1) Pemeriksaan berat jenis dengan menggunakan alat Laktodensimeter yang ditera pada suhu 27,5oC. Prinsip pengujian ini adalah bahwa benda padat yang dimasukkan kedalam suatu cairan akan mendapatkan tekanan keatas seberat volume cairan yang dipindahkan. Berat jenis diukur antara suhu 20o \u2013 30oC disesuaikan pada: 2) Pemeriksaan kadar lemak dengan metode Gerber dengan prinsip Asam sulfat …<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":985,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1718],"tags":[1735,1734,1722,1733,1728,1731,1730,1732,1729,1736],"class_list":["post-986","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pengujian-mutu-susu","tag-parameter-pengujian-susu","tag-pengujian-kualitas-susu-sapi","tag-pengujian-mutu-susu-segar","tag-pengujian-pemalsuan-susu","tag-pengujian-susu","tag-pengujian-susu-pasteurisasi","tag-pengujian-susu-sapi","tag-pengujian-susu-pdf","tag-pengujian-susut-beton","tag-sni-pengujian-susu"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.tneutron.net\/pangan\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/986","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.tneutron.net\/pangan\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.tneutron.net\/pangan\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.tneutron.net\/pangan\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.tneutron.net\/pangan\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=986"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.tneutron.net\/pangan\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/986\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2952,"href":"https:\/\/www.tneutron.net\/pangan\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/986\/revisions\/2952"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.tneutron.net\/pangan\/wp-json\/wp\/v2\/media\/985"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.tneutron.net\/pangan\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=986"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.tneutron.net\/pangan\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=986"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.tneutron.net\/pangan\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=986"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}