Home > Pemodelan Furnitur > Furnitur Secara Historis > Furnitur Model Kontemporer / Modern

Furnitur Model Kontemporer / Modern

Ciri-ciri furniture Kontemporer (mulai abad 20), (Walthon J.A, 1984).
1. Memenuhi tuntutan Standard.
Walaupun telah banyak perubahan dan penambahan bentuk yang begitu berhasil, standard konstruksi meningkat dari arsitektur dan furniture, tetapi tidak dapat berpengaruh terlalu besar terhadap motif atau gaya (mode) tradisonal.

2. Bersifat sederhana/ Simple.
Selama dekade pertama abad ke 20, organisasi Werkbund (di Jerman) sebagai organisasi besar dalam disain furnitur saat itu, dan juga organisasi lain sejenisnya bekerja menghasilkan design yang sederhana (Simple-Plain), sementara nilai seni dan seni-seni halus menuntut menjadi suatu mode, sehingga mereka tidak dapat memenuhi kebutuhan konsumen pada umumnya.

3. Berbasis Kerja Mesin (Masinal).
Pada periode ini masih melangsungkan era Victoria baik bentuk maupun ornamen-ornamen dangkalnya. Furniture gaya Elizabeth juga masih mewarnai yaitu , berat,besar dan sering terbuat dan konstruksi yang sederhana. Penggunaan block yang diberi lem (Glue Block), paku dan sekrup, dan dekorasi campuran profil (Moulding) dan ukiran. Beberapa perancang mencoba mengekspresikan secara pribadi dengan melakukan percobaanp ercobaan, yaitu memasangkan ornament variasi dan beberapa bahan seperti : gadirig, plastik dan kaca. Venir tipis juga sering digunakan untuk menutupi konstruksi yang kurang bagus.

4. Ringan, Rapih dan Halus.
Sebelum Perang Dunia ke I. design terakhir memperlihatkafl perubahan kepada bentuk ringan dan lebih rapih setelah kerapihan gaya Sheraton. Perubahan ini mempengaruhi ditiru dengan baik oleh gaya-gaya Arsitektur belakangan. Bentuk Arsitekturnya memungkinkan diisi oleh furnitur yang lebih ringan dan Iebih cocok untuk dibentuk interior baru.

Permulaan Bentuk Abstrak

Setelah Perang Dunia ke I ada pergolakan/persaingan antara pendukung-pendukung Designer Furniture baru yang tetap mempertahankan prinsip modernisasinya, sementara di lain pihak menginginkan tetap bertahannya gaya-gaya ornament tradisional dan untuk tetap mempertahankan karya seninya. Pasca Perang Dunia berdampak sangat meningkatnya keperluan barang-barang dagangan dalam segi kuantitas, dalam jumlah banyak, bukan kualitasnya yang diutamakan, karena semata-mata untuk memenuhi permintnan dari semua jenis barang yang demikian melonjak besar-besaran termasuk juga pelayannnya.

Permintaan jauh lebih meningkat, dengan diperkenalkannya sistem waktu bayaran, cara pembayaran upah kerja dari barang barang tersebut dan sangat kurangnya perancang (designer) Industri yang terlatih, para industrialis melakukan perubahan standard furnitur kearah yang minimalis dalam gaya atau model Furniture yang bisa dipopulerkan. (Walthon. J.A, 1984)
image
Gambar Furnitur bentuk yang dicetak dari bahan sintetis dan metal

Sebagian dari designer yang progresif merasa kecewa pasca perang dunia, karena kualitas Furnitur begitu drastis menurun, mereka melanjutkan membuat kembali furnitur yang berkualitas baik yang keseluruhannya dibuat dengan tangan (hand made). Mereka menggunakan mesin-mesin terutama untuk pekerjaan besar dan berat, khususnya dalam pekerjaan persiapan dan pembahanan kayu, seperti yang telah dirintis oleh : Edward Barnsley Ltd, Romney Green and Peter Walls Ltd, Heal & Son dan Gordon Russell Ltd, (di Inggris) misalnya, dengan mempunyai pabrik sendiri atau Workshop sendiri dan telah mengembangkan pembuatan Furniture berkuaslitas tinggi (High Quality) sampai sekarang.

Pada tahun 1933 pemerintah Jerman telah menutup Bauhaus School padahal di sekolah ini pusatnya perintisan dan pengembangan disain furnitur (Walthon, 1984), dan kebanyakan guru-gurunya dan para pelajarnya menyebar ke Inggris dan Amerika dimana mereka meneruskan pengembangan ide dan pengalamannya.
image
Gambar Model Furnitur Modern dari Metal, Plastik dan Upholstery

Pada tahun tigapuluhan para Arsitek dan Designer muda menginterprestasikan “prinsip fungsi” Bauhaus menekankan sekali pada aspek apa adanya (secara kaku). padahal model Arsitektur telah menempati urutan atas dalam perkembangannya sehingga banyak diperoleh penemuan baru tentang produksi, misalnya baja, beton-beton bertulang, plat-plat kaca, dengan diperkenalkannya pula cara-cara pengkonstruksian baru.
Penggunaan cantilever dan ruangan yang lebar saat itu, membuat para designer muda terinspirasi untuk merencanakan dan mendistribusikan ruangan interior yang luas, dan menghilangkan dinding-dinding penghalang yang tidak terlalu perlu, misalnya jendela–jendela kecil.

Bentuk-bentuk bangunan menjadi seperti kotak (box), pemakaian rangka-rangka beton bertulang dan konstruksi baja, dimana dinding-dindingnya terbuat dan batu bata atau beton dan kayu, dengan bagian luar bersifat terbuka dengan pemasangan dinding-dinding kaca yang lebar. Mereka sengaja menyederhanakan (simple), tidak banyak ornament, geometris, ditekankan pada fungsional, serta penggunaan bahan dan konstruksi secara minimalis, ekspresi rancangan dalam model bangunan yang menggunakan rangka-rangka, semuanya mengimbas pada rekayasa dan pemodelan furnitur.

TN

"Tasikmalaya, Indonesia"


"My Facebook"


"My Instagram"


"My Twitter"