Ciri-ciri furniture Kontemporer (mulai abad 20), (Walthon J.A, 1984). 2. Bersifat sederhana\/ Simple.<\/strong> 3. Berbasis Kerja Mesin (Masinal). 4. Ringan, Rapih dan Halus. Permulaan Bentuk Abstrak<\/strong><\/p>\n Setelah Perang Dunia ke I ada pergolakan\/persaingan antara pendukung-pendukung Designer Furniture baru yang tetap mempertahankan prinsip modernisasinya, sementara di lain pihak menginginkan tetap bertahannya gaya-gaya ornament tradisional dan untuk tetap mempertahankan karya seninya. Pasca Perang Dunia berdampak sangat meningkatnya keperluan barang-barang dagangan dalam segi kuantitas, dalam jumlah banyak, bukan kualitasnya yang diutamakan, karena semata-mata untuk memenuhi permintnan dari semua jenis barang yang demikian melonjak besar-besaran termasuk juga pelayannnya.<\/p>\n Permintaan jauh lebih meningkat, dengan diperkenalkannya sistem waktu bayaran, cara pembayaran upah kerja dari barang barang tersebut dan sangat kurangnya perancang (designer) Industri yang terlatih, para industrialis melakukan perubahan standard furnitur kearah yang minimalis dalam gaya atau model Furniture yang bisa dipopulerkan. (Walthon. J.A, 1984) Sebagian dari designer yang progresif merasa kecewa pasca perang dunia, karena kualitas Furnitur begitu drastis menurun, mereka melanjutkan membuat kembali furnitur yang berkualitas baik yang keseluruhannya dibuat dengan tangan (hand made). Mereka menggunakan mesin-mesin terutama untuk pekerjaan besar dan berat, khususnya dalam pekerjaan persiapan dan pembahanan kayu, seperti yang telah dirintis oleh : Edward Barnsley Ltd, Romney Green and Peter Walls Ltd, Heal & Son dan Gordon Russell Ltd, (di Inggris) misalnya, dengan mempunyai pabrik sendiri atau Workshop sendiri dan telah mengembangkan pembuatan Furniture berkuaslitas tinggi (High Quality) sampai sekarang.<\/p>\n
\n1. Memenuhi tuntutan Standard.<\/strong>
\nWalaupun telah banyak perubahan dan penambahan bentuk yang begitu berhasil, standard konstruksi meningkat dari arsitektur dan furniture, tetapi tidak dapat berpengaruh terlalu besar terhadap motif atau gaya (mode) tradisonal.<\/p>\n
\nSelama dekade pertama abad ke 20, organisasi Werkbund (di Jerman) sebagai organisasi besar dalam disain furnitur saat itu, dan juga organisasi lain sejenisnya bekerja menghasilkan design yang sederhana (Simple-Plain), sementara nilai seni dan seni-seni halus menuntut menjadi suatu mode, sehingga mereka tidak dapat memenuhi kebutuhan konsumen pada umumnya.<\/p>\n
\n<\/strong>Pada periode ini masih melangsungkan era Victoria baik bentuk maupun ornamen-ornamen dangkalnya. Furniture gaya Elizabeth juga masih mewarnai yaitu , berat,besar dan sering terbuat dan konstruksi yang sederhana. Penggunaan block yang diberi lem (Glue Block), paku dan sekrup, dan dekorasi campuran profil (Moulding) dan ukiran. Beberapa perancang mencoba mengekspresikan secara pribadi dengan melakukan percobaanp ercobaan, yaitu memasangkan ornament variasi dan beberapa bahan seperti : gadirig, plastik dan kaca. Venir tipis juga sering digunakan untuk menutupi konstruksi yang kurang bagus.<\/p>\n
\n<\/strong>Sebelum Perang Dunia ke I. design terakhir memperlihatkafl perubahan kepada bentuk ringan dan lebih rapih setelah kerapihan gaya Sheraton. Perubahan ini mempengaruhi ditiru dengan baik oleh gaya-gaya Arsitektur belakangan. Bentuk Arsitekturnya memungkinkan diisi oleh furnitur yang lebih ringan dan Iebih cocok untuk dibentuk interior baru.<\/p>\n
\n
<\/a>
\nGambar Furnitur bentuk yang dicetak dari bahan sintetis dan metal<\/p>\n