<\/a><\/p>\nPembagian ini hanya berlaku untuk dataran rendah tropik dan tidak termasuk ketahanan terhadap cacing laut.<\/p>\n
(b) Permeabilitas Kayu
\n<\/strong>Permeabilitas diartikan sebagai mudah tidaknya kayu ditebus oleh zat cair. Sama seperti pada keawetan permeabilitas kayu sangat bervariasi. Kayu gubal mempunyai sifat permeabilitas yang baik karena bagian ini tadinya berfungsi sebagai penyaluran air dari akar menuju ke daun. Kayu teras mempunyia sifat permeabilitas yang kurang baik, karena terbentuknya filosis serta deposit-deposit lain yang menutupi sel-sel kayu.
\nPermeabilitas kayu serin juga disebut treatabilitas yaitu mudah tidaknya kayu diperlakukan\/diawetkan.<\/p>\nTreatabilitas Kayu dibagi ke dalam 3 golongan, yaitu :
\na. Sarang<\/strong> (Permeable) : Kayu ini dapat dipenetrasi seluruhnya di dalam silinder tekan atau mudah diimpreginasi pada proses randaman.
\nb. Sedang<\/strong> (Moderate) : Penetrasi internal sebesar \u00bc – \u00bd inchi (o,6 \u2013 1,2 cm) dapat dicapai dalam waktu 2 \u2013 3 jam dibawah tekanan
\nc. Sukar<\/strong> (Difficulf) : Kayu ini membutuhkan waktu yang sangat lama untuk mencapai penetrasi sedalam 1\/8 \u2013 \u00bc inchi (0,3 \u2013 0,6 cm) di bawah tekanan.<\/p>\n(c) Pengujian Keawetan Alami<\/strong>
\nKeawetan alami terhadap faktor perusak kayu golongan biologis dapat ditentukan dengan 2 cara Yaitu :
\na. Cara Kuburan<\/strong>
\nDalam cara ini, kayu dalam ukuran tertentu ditanam dilapangan dan diperiksa dalam jangka waktu tertentu untuk menentukan masa pakai\/umurnya. Cara ini mempunyai kelemahan-kelemahan antara lain :
\n– Waktu pengujian sangat penjang sehingga menyulitkan dalam pengamatan.
\n– Lapangan pengujian harus selalu dirawat agar tidak berubah menjadi semak-semak.
\n– Sulit menetapkan apakah rusaknya kayu tersebut disebabkan oleh cendawan atau rayap, bila kedua faktor tersebut terdapat bersama-sama pada lapangan pengujian.<\/p>\nb. Cara Laboratorium<\/strong>
\nCara ini waktunya lebih pendek dan umur\/masa pakai kayu ditentukan dari besarnya kehilangan berat contoh uji. Cara ini mengatasi kelemahan-kelemahan cara kuburan, akan tetapi juga masih mempunyai kelemahan antara lain ialah hanya jenis-jenis perusak kayu tertentu yang dapat dibiakkan di Laboratorium dan sulit mengatur kondisi yang sesuai dengan kondisi alam sebenarnya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"(a) Keawetan Alami Kayu Keawetan diartikan sebagai daya tahan kayu terhadap serangan faktor perusak kayu dari golongan biologis. Keawetan alami ditentukan oleh zat ekstratif yang bersifat racun terhadap faktor perusak tadi, sehingga dengan sendirinya keawetan alami ini akan bervariasi sesuai dengan variasi jumlah serta jenis zat ekstraktifnya. Hal ini menyebabkan keawetan alami berbeda-beda menurut jenis …<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":694,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[809],"tags":[1149,1157,1158,1150,1154,1156,1151,1152,1155,1153],"class_list":["post-696","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pemeriksaan-bahan-kayu","tag-keawetan-kayu","tag-keawetan-kayu-adalah","tag-keawetan-kayu-gmelina","tag-keawetan-kayu-jati-belanda","tag-keawetan-kayu-kelapa","tag-keawetan-kayu-kempas","tag-keawetan-kayu-mahoni","tag-keawetan-kayu-meranti","tag-keawetan-kayu-nangka","tag-keawetan-kayu-sengon"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.tneutron.net\/seni\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/696","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.tneutron.net\/seni\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.tneutron.net\/seni\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.tneutron.net\/seni\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.tneutron.net\/seni\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=696"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.tneutron.net\/seni\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/696\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3261,"href":"https:\/\/www.tneutron.net\/seni\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/696\/revisions\/3261"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.tneutron.net\/seni\/wp-json\/wp\/v2\/media\/694"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.tneutron.net\/seni\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=696"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.tneutron.net\/seni\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=696"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.tneutron.net\/seni\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=696"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}