" /> Rencana Pembagian Air | TN Sipil

Rencana Pembagian Air

Rencana tahunan pembagian air irigasi disusun oleh dinas kabupaten/kota atau dinas provinsi yang membidangi irigasi sesual dengan kewenangannya berdasarkan rencana tahunan penyediaan air irigasi usulan perkumpulan petani pemakai air (P3A) dan pemakai air untuk kepentingan lainnya.

Rencana pembagian air irigasi ditetapkan oleh bupati/walikota atau gubernur sesuai dengan kewenangan dan atau penyelenggaraan wewenang yang dilimpahkan kepada pemenintah daerah yang bersangkutan, sedangkan rencana tahunan pemberian air irigasi pada daerah irigasi lintas provinsi dan strategis nasional yang belum dilimpahkan kepada pemenintah provinsi atau pemenintah kabupaten/kota disusun oleh instansi tingkat pusat yang membidangi irigasi dan disepakati bersama dalam forum koordinasi komisi irigasi atau yang disebut dengan nama lain dan ditetapkan oleh Menteri sesuai dengan hak guna air untuk irigasi yang tetah ditentukan atau kebutuhan air irigasi yang diperlukan berdasarkan usulan petani.

a. Pemberian Air Irigasi
Rencana pemberian air irigasi disusun oleh dinas kabupaten/kota atau dinas provinsi yang membidangi irigasi sesuai dengan kewenangannya berdasarkan rencana tahunan penyediaan air irigasi, usulan perkumpulan petani pemakai air (P3A) dan pemakai air untuk kepentingan lainnya. Rencana pemberian air irigasi harus disepakati oleh komisi irigasi kabupaten/kota atau komisi irigasi provinsi sesuai dengan cakupan tugasnya berdasarkan, (1) kebutuhan air irigasi yang diperlukan; dan, (2) kesepakatan dengan perkumpulan petani pemakai air (P3A).

Ada beberapa kondisi yang harus diperhatikan untuk menerapkan cara pemberian air irigasi ke petak tersier yaitu:
(1) Jika kondisi debit Iebih besar dari 70% debit rencana
Air irigasi dan saluran primer dan sekunder diatirkan secara terus menerus (continuous flow) ke petak-petak tersier metalui pintu sadap tersier. Dalam petak tersien air tetap mengatir dan petak sawah yang lebih tinggi ke petak sawah yang tebih rendah. Jika ada kelebihari air maka air dan petak sawah yang terendah akan masuk ke saluran pembuang.

(2) Kondisi debit kurang dari 70 % sampai dengan 50 % dari debit rencana
Apabila kondisi debit tersedia kurang dari 70% sampai dengan 50% dari debit rencana, maka pelaksanaan pemberian air ke petak-petak tersier dilakukan dengan rotasi. Pelaksanaan rotasi dapat diatur antar sekunder, misal suatu jaringan irigasi mempunyai 2 (dua) sekunder yaitu sekunder A dan sekunder B, maka selama 3 (tiga) hari air irigasi dialirkan ke sekunder A dan 3 (tiga) hari berikutnya ke sekunder B begitu setiap 3 (tiga) hari ditakukan pergantian sampai suatu saat debitnya kembali normal dan pemberian air berubah menjadi continuous flow.

Rotasi juga dapat dilakukan antar petak tersier, dimana petak-petak tersier sudah diberi nomor 1, 2, 3, dan pada umumnya tidak lebih dan 4 maka, tiap 3 (tiga) hari pertama air dialirkan ke petak-petak tersier yang bernomor ganjil dan 3 (tiga) hari berikutnya dialirkan ke petak-petak tersier yang bernomor genap.

(3) Cara pemberian air intermitten
Cara pembenian air intermitten biasanya dilaksanakan jika jaringan irigasi mempunyai sumber air dari waduk, atau dan sistem irigasi pompa, dimana misalnya 1 (satu) minggu air waduk dialirkan ke jaringan irigasi dan 1 (satu) minggu kemudian waduknya ditutup demikian seterusnya sehingga setiap minggu dapat air dan satu minggu kemudian tidak dapat air. Pada sistem irigasi pompa, juga demikian misalnya 1 (satu) hari pompa dihidupkan dan 1 (satu) hari kemudian tidak dihidupkan.

b. Melaksanakan Tata Tanam dan Pembagian Air
Tata tanam yang telah disusun harus dilaksanakan sesuai dengan waktu dan besaran/volume pembagian air yang direncanakan walaupun dalam pelaksa-naannya sering dijumpai rencana pembagian air kurang dari volume rencana disebabkan debit tersedia (dependable flow) meleset 20%. Ditambah faktor penggundulan daerah tangkapan air (catchment area), maka lebih sering mengalami kekurangan air.

c. Kalibrasi
Kegiatan kalibrasi dimaksudkan untuk menera kebenaran debit yang keluar baik dari pintu bendung, bangunan bagi primer dan bagunan bagi sekunder. Peneraan biasanya menggunakan alat current meter dan pelampung.

d. Monitoring dan Evaluasi
Kegiatan operasi berkaitan dengan pembagian air irigasi, agar pembagian dapat adil dan merata maka kegiatan operasi pada jaringan utama sampai dengan kegiatan pada pintu tersier harus dilaksanakan oleh aparat/petugas Dinas PU Pengairan (swakelola).