Informasi tentang pola aliran alam diperlukan untuk mendapatkan gambaran tentang kecenderungan pola letak dan arah aliran alam yang terjadi sesuai dengan kondisi lahan daerah rencana. Secara tidak langsung sebenarnya informasi ini dapat diinterpretasikan dari peta topografi dengan cara mengidentifikasi bagian lembah dan punggung lahan. Dimana pola aliran buangan alam cenderung mengarah pada bagian lembah. Namun untuk dapat memperoleh hasil informasi yang lebih akurat, observasi lapangan kerja diperlukan. Agar pekerjaan observasi lebih efisien, hendaknya diidentifikasi terlebih dahulu daerah-daerah yang akan disurvai melalui informasi yang tersedia.<\/p>\n
Daerah pembuangan yang dimaksud adalah tempat pembuangan kelebihan air dan lahan yang di rencanakan, baik berupa sungai, danau atau atau laut. Informasi ini sangat penting terutama berkaitan denaan penempatan fasilitas outletnya. Elevasi fasilitas outlet harus ditetapkan di atas muka maksimum daerah pembuangan, sehingga gejala terjadinya muka air balik pada rencana saluran drainase dapat dihindari.<\/p>\n
A. Pola Alamiah<\/strong> a = Saluran pengumpul (colector) B. Pola Siku<\/strong> a =Saluran pengumpul C. Pola Paralel<\/strong> D. Pola Gridiron<\/strong> E. Pola Radial<\/strong> F. Pola Jaring-jaring<\/strong> Informasi tentang pola aliran alam diperlukan untuk mendapatkan gambaran tentang kecenderungan pola letak dan arah aliran alam yang terjadi sesuai dengan kondisi lahan daerah rencana. Secara tidak langsung sebenarnya informasi ini dapat diinterpretasikan dari peta topografi dengan cara mengidentifikasi bagian lembah dan punggung lahan. Dimana pola aliran buangan alam cenderung mengarah pada bagian lembah. Namun …<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1484,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1866],"tags":[2084,2082,2083,2088,2090,2085,2087,2089,2091,2086],"class_list":["post-1485","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sistem-drainase-pertanian","tag-alam-aliran-kualiti","tag-aliran-alam","tag-aliran-alam-islam","tag-aliran-hukum-alam-dalam-sosiologi-hukum","tag-aliran-hukum-alam-dan-positivisme-hukum","tag-aliran-hukum-alam-irasional","tag-aliran-hukum-alam-irasional-dan-rasional","tag-aliran-hukum-alam-menurut-thomas-aquinas","tag-aliran-hukum-alam-yang-rasional","tag-aliran-pengajaran-alam-sekitar"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.tneutron.net\/sipil\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1485","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.tneutron.net\/sipil\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.tneutron.net\/sipil\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.tneutron.net\/sipil\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.tneutron.net\/sipil\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1485"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.tneutron.net\/sipil\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1485\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3459,"href":"https:\/\/www.tneutron.net\/sipil\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1485\/revisions\/3459"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.tneutron.net\/sipil\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1484"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.tneutron.net\/sipil\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1485"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.tneutron.net\/sipil\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1485"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.tneutron.net\/sipil\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1485"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}
\nLetak saluran pembuang harus berada di bagian terendah atau lembah dari suatu daerah akan sangat efektif berfungsi sebagai pengumpul dari anak cabang saluran pengumpul drianase, dimana saluran pengumpul dan pembuang merupakan saluran alamiah.
\n
<\/a>
\nGambar 36. Pola alamiah drainase<\/p>\n
\nb = Saluran pembuang (conveyor)<\/p>\n
\nSaluran pembuang terletak di lembah dan merupakan saluran alamiah, sedangkan saluran pembuang dibuat tegak lurus terhadap saluran pengumpul drainase.
\n
<\/a>
\nGambar 37. Pola siku drainase<\/p>\n
\nb =saluran pembuang<\/p>\n
\nSaluran pengumpul drainase yang menampung debit dari sungai-sungai yang lebih kecil, dibuat sejajar satu sama lain dan kemudian masuk ke dalam saluran pembuang drainase.
\n
<\/a>
\nGambar 38. Pola parallel drainase<\/p>\n
\nBeberapa interceptor drain dibuat satu dan lainnya sejajar, kemudian ditampung di saluran pengumpul (collector drain) untuk selanjutnya masuk ke dalam saluran pembuang (conveyor drain).
\n
<\/a>
\nGambar 39. Pola Drainase Gridiron<\/p>\n
\nSuatu daerah genangan dikeringkan melalui beberapa saluran pengumpul dari satu titik menyebar ke segala arah sesuai den kondisi topografi daerah.
\n
<\/a>
\nGambar 40. Pola Drainase Radial<\/p>\n
\nUntuk mencegah terjadinya pembebanan aliran dari suatu daerah terhadap daerah lainnya, maka dapat dibuat beberapa saluran pengumpul tambahan (a) yang kemudian ditampung ke dalam saluran pembuang (b) dan selanjutnya dialirkan menuju saluran pembuang utama.
\n
<\/a>
\nGambar 41. Pola Drainase Jaring-jaring<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"