Tinggi pohon merupakan salah satu dimensi yang digunakan dalam pengukuran kayu. Tinggi pohon didefinisikan sebagai jarak atau panjang garis terpendek antara suatu titik pada pohon dengan proyeksinya pada bidang datar (lebih jelasnya dapat dilihat dalam Gambar 24). Dari gambar tersebut, dapat diambil pelajaran : Hal yang perlu diingat!<\/strong> Rumus berdasarkan sudut-derajat<\/strong> Selanjutnya rumus tersebut dikembangkan dengan memperhatikan posisi\/kedudukan mata saat membidik pohon atau sebaliknya posisi pohon saat dibidik. Terdapat tiga posisi mata pada saat membidik pohon, yaitu : Dari gambar tersebut dapat diperoleh rumus tinggi pohon, yaitu : Keterangan : 2) Posisi mata masih berada diantara pangkal dan bagian atas batang, tetapi arah bidik tidak sejajar dengan bidang datar\/arah bidik menaik (Gambar 27). Dari gambar tersebut dapat diperoleh rumus tinggi pohon, yaitu : Keterangan :
\n
<\/a>
\nGambar 24. Tinggi pohon<\/p>\n
\n1) Tinggi total adalah jarak terpendek dari titik puncak pohon dengan titik proyeksinya pada bidang datar.
\n2) Tinggi pohon bebas cabang (Tbc) adalah jarak terpendek dari titik bebas cabang dengan titik proyeksinya pada bidang datar.<\/p>\n
\nIstilah tinggi pohon hanya berlaku untuk pohon yang masih berdiri, sedangkan untuk pohon rebah digunakan istilah panjang pohon. Selanjutnya, pertanyaan yang mungkin timbul dalam benak adalah bagaimana cara untuk mengukur tinggi pohon? Untuk dapat menjawab pertanyaan tersebut, mari Anda simak uraian berikut ini!<\/p>\n
\nRumus tinggi didasarkan pada rumus ilmu ukur sudut yaitu rumus tangen. Pengukuran tinggi diilustrasikan berupa segitiga sama kaki dengan sudut di kedua kaki sebesar 45o. Terkait dengan keidentikkan rentangan sudut-derajat (\u03d5 = \u03b4) terhadap sudut-persen (\u03d5 = \u03b4), sehingga besaran 45o<\/sup> diidentikkan dengan 100% (Gambar 25).
\n
<\/a>
\nGambar 25. Segitiga sama kaki<\/p>\n
\n1) Posisi mata berada diantara pangkal dan bagian atas batang (ujung batang\/tajuk, bebas cabang atau tinggi tertentu) dan arah bidik sejajar dengan bidang datar\/arah bidik datar (Gambar 26).
\n
<\/a>
\nGambar 26. Rumus dasar tinggi berdasarkan posisi (1)<\/p>\n
\nT = (t1 + t2)
\nT = (Jd x tangen \u03b1) + (Jd x tangen \u03b2)
\nT = Jd x (tangen \u03b1 + tangen \u03b2)<\/p>\n
\nT = tinggi total pohon (m)
\nt1 = tinggi pohon BC (m)
\nt2 = tinggi pohon AB (m)
\nJd = jarak datar antara pembidik dengan pohon (m)
\n\u03b1 = sudut yang terbentuk saat membidik pucuk pohon (m)
\n\u03b2 = sudut yang terbentuk saat membidik pangkal pohon (m)<\/p>\n
\n
<\/a>
\nGambar 27. Rumus dasar tinggi berdasarkan posisi (2)<\/p>\n
\nT = (t1 + t2)
\nT = (Jd x tangen \u03b1) + (Jd x tangen \u03b2)
\nT = Jd x (tangen \u03b1 + tangen \u03b2)<\/p>\n
\nT = tinggi total pohon (m)
\nt1 = tinggi pohon BC (m)
\nt2 = tinggi pohon AB (m)
\nJd = jarak datar antara pembidik dengan pohon (m)
\n\u03b1 = sudut yang terbentuk saat membidik pucuk pohon (m)
\n\u03b2 = sudut yang terbentuk saat membidik pangkal pohon (m)<\/p>\n