Home > Ilmu Ukur Kayu > Pengukuran Pohon > Pengukuran Dimensi Kayu

Pengukuran Dimensi Kayu

Ilmu ukur kayu dikenal secara umum sebagai ilmu ukur hutan. Henri S. Groves (1960) dalam Anonimus (2011) mengartikan ilmu ukur hutan sebagai suatu ilmu yang mempelajari volume kayu (log), pohon dan tegakan serta mempelajari hasil dan pertumbuhan hutan. Setelah perang dunia ke II berkembang penerapan teori statistik menggunakan komputer, sehingga ilmu ukur kayu mengikuti perkembangan tersebut dan para ilmuwan ukur kayu pun mengikutinya dengan mempelajari dasar-dasar matematika seperti kalkulus, analisis system, dan operasi riset untuk mendukung aplikasi dalam ilmu ukur kayu.

Ilmu ukur kayu merupakan salah satu kunci keberhasilan pengelolaan hutan. Bagaimana bisa ilmu ukur kayu memegang peranan keberhasilan di dalam pengelolaan hutan? Pengelolaan hutan pada dasarnya mengelola aktivitas tanah hutan yaitu flora dan fauna yang ada di atasnya serta manusia yang memanfatkan tanah hutan tersebut. Dalam pengelolaan hutan, hal penting yang perlu diperhatikan adalah kemampuan untuk memberikan solusi terhadap permasalahan yang timbul selama pelaksanaan pengelolaan hutan, seperti :
(1) Apakah perlakuan silvikultur yang dilakukan dapat menghasilkan permudaan dan pertumbuhan yang baik?
(2) Apakah spesies yang ditanam untuk reboisasi sesuai dengan ekologi hutannya?
(3) Apakah hasil hutan berupa kayu memenuhi standar minimal ekonomi apabila dilakukan pembalakan/penebangan hutan?
(4) Apakah hutan yang dikelola memiliki potensi untuk pengembangan ekowisata?

Untuk menjawab pertanyaan di atas pengelola hutan memerlukan infomasi yang akurat agar pengelolaan hutan dapat memberikan nilai ekonomis kepada semua pihak yang berada di sekitar hutan (tidak hanya kepada pengelola hutan tetapi masyarakat sekitar hutan dan pemerintah pun dapat menikmati hasil hutan secara ekonomi). Informasi dapat terjamin keakuratannya jika sesuai dengan data lapangan sebenarnya. Melalui ilmu ukur kayu, yang di dalamnya menerapkan prinsip-prinsip pengukuran kayu, dapat diperoleh informasi secara kuantitatif mengenai potensi kayu dalam hutan yang selanjutnya dapat berguna dalam pengambilan keputusan tingkat manajerial.

Asy’ari dkk. (2012) menyebutkan bahwa pengertian dimensi adalah suatu ukuran panjang dengan satuan ukuran tertentu. Suatu ruang atau bangunan tertentu memiliki dimensi panjang, lebar dan tinggi, sehingga dimensi yang diukur ini dapat menghasilkan volume atau isi, yaitu hasil perkalian ketiga dimensi yang dimiliki ruang atau bangunan tersebut. Sejalan dengan pengertian tersebut, maka untuk batang pohon berdiri memiliki dimensi diameter atau keliling, dan tinggi. Sedangkan untuk pohon rebah atau pohon setelah tebang memiliki dimensi diameter atau keliling, dan panjang.

Dimensi-dimensi tersebut yang kemudian dinyatakan sebagai dimensi pohon yang diukur pada saat pengukuran dilakukan. Volume batang (biasa dinyatakan dalam m3) pada dasarnya adalah hasil perkalian dimensi pohon yang diukur (diameter atau keliling, dan tinggi atau panjang). Dengan demikian, volume batang bukanlah salah satu dimensi dari dimensi pohon yang diukur walaupun volume batang pohon dapat diukur secara langsung dengan menggunakan alat ukur Xylometer.

Terdapat dua cara mengukur dimensi pohon, baik pohon berdiri maupun pohon rebah, yaitu secara langsung dan tidak langsung.
(1) Pengukuran langsung (direct measurement).
Pengukuran secara langsung ini dapat dilakukan terhadap diameter atau keliling batang, baik pohon dalam keadaan berdiri atau rebah. Sedangkan tinggi atau panjang hanya dapat dilakukan terhadap pohon rebah (kayu bulat).

(2) Pengukuran tidak langsung (estimate/penaksiran).
Pengukuran secara tidak langsung biasanya dilakukan dengan cara menduga dimensi yang diukur. Cara menduga dimensi dilakukan secara kasat mata atau tanpa bantuan alat pengukuran dimensi apapun. Cara ini biasa dilakukan hanya bagi orang-orang yang berpengalaman di lapangan.