Home > Pengelolaan Kualitas Air > Identifikasi Kualitas Air > Proses Terjadinya Pasang Surut

Proses Terjadinya Pasang Surut

Bulan berputar mengelilingi bumi sekali dalam 24 jam 51 menit, jika faktor-faktor lain diabaikan maka suatu lokasi di bumi akan mengalami dua kali pasang dan dua kali surut dalam sehari yang dikenal dengan istilah pasang berganda (semi diurnal tides), dimana tiap siklus pasang-surut akan bergeser mundur selama 51 menit setiap hari. Karena lintasan bulan mengitari bumi adalah berbentuk ellips, dimana bumi berada pada satu titik pusatnya, maka jarak bumi ke bulan berubah-ubah setiap saat.

Titik terjauh dari bulan ke bumi disebut Apogee dan titik terdekat disebut Perigee. Walaupun perubahan jarak bumi-bulan ini kecil, tetapi karena besarnya gaya pembangkit pasang berbanding terbalik pangkat dua dengan jarak, maka peranan perubahan jarak ini penting terhadap pasang. Pada posisi bulan baru dan purnama, pengaruh bulan terhadap pasang diperkuat oleh pengaruh matahari, dimana pasang yang ditimbulkan besar sekali dan iniah yang disebut pasang purnama (spring tide).

Jika posisi matahari-bumi-bulan membentuk sudut 90 derajat, pengaruh bulan diperkecil oleh pengaruh matahari,sehingga pasang yang ditimbulkan sangat kecil disebut pasang perbani (neap tide). Waktu yang dibutuhkan dari pasang purnama ke pasang perbani tidak selamanya sama dengan waktu yang dibutuhkan dari pasang purnama ke pasang purnama. Jarak waktu rata-rata pasang purnama ke pasang purnama berikutnya adalah 14,7 hari.

image
Gambar 13. Mekanisme pasang surut air laut

Kisaran pasang surut (tidal ranges), yaitu perbedaan tinggi air pada saat pasang maksimum dengan tinggi air pada saat surut minimum, rata-rata berkisar antara 1 meter hingga 3 meter. Sebagai contoh, di Tanjung Priok Jakarta hanya sekitar 1 meter, Ambon sekitar 2 meter, Bagan Siapi-api sekitar 4 meter, sedangkan yang tertinggi di muara Sungai Digul dan Selat Muli di Irian Jaya dapat mencapai sekitar 7 sampai 8 meter. Faktor-faktor alam yang dapat mempengaruhi terjadinya pasang surut antara lain; dasar perairan, letak benua dan pulau serta pengaruh gaya coriolis.

Dasar perairan, terutama pada perairan dangkal, memperlambat perambatan gerakan pasang,sehingga suatu tempat dapat mempunyai Lunital Interval yang besar. Tahanan dasar dapat juga meredam energi pasang, sehingga pada perairan tertentu pasang sangat kecil. Pantai atau pulau dapat menyebabkan pematahan (refraksi) atau pemantulan (refleksi) gelombang pasang. Demikian pula gaya coriolis dapat mengubah perambatan pasang (Boyd, 1982).

Akibat adanya fenomena peredaman, pematahan dan pemantulan, maka komponen pasang mengalami perubahan tidak sama. Beberapa tempat misalnya hanya mengalami pasang naik satu kali, sedangkan di tempat lain terjadi dua kali pasang dan ada pula kombinasi dari kedua fenomena ini. Dilihat dari pada gerakan permukaan laut, maka pasang surut di Indonesia dibagi menjadi 4 jenis, yaitu;
a) Pasang surut harian tunggal (diurnal tide), yaitu terjadi satu kali pasang dan satu kali surut dalam sehari, misalnya di Selat Karimata.
b) Pasang surut harian ganda (semi diurnal), yaitu terjadi dua kali surut dalam sehari, misalnya di Selat Malaka dan Laut Andaman.
c) Pasang surut campuran condong ke harian ganda (mixed tide prevailing semi diurnal), yaitu terjadi dua kali surut sehari yang berbeda dalam tinggi dan waktu, misalnya di perairan Indonesia Timur.
d) Pasang surut campuran condong ke harian tunggal (Mixed tide prevailing diurnal), yaitu terjadi satu kali pasang dan satu kali surut dalam sehari yang sangat berbeda dalam tinggi dan waktunya, misalnya di pantai selatan Kalimantan dan pantai utara Jawa Barat.

Pengetahuan pasang surut dalam dunia pelayaran sangat berguna sekali, terutama jika mengetahui jadwal pasang surut di suatu pelabuhan, maka dengan mudah sebuah kapal dapat masuk dan meninggalkan pelabuhan tersebut. Demikian pula energi yang ditimbulkan oleh arus pasang surut dalam jumlah besar dapat dimanfaatkan sebagai pembangkit tenaga listrik.

Sedangkan khusus dalam dunia perikanan, fenomena pasang surut dapat dimanfaatkan untuk menangkap jenis-jenis ikan pantai dengan menggunakan alat perangkap, seperti bubu dan sero. Demikian pula fenomena ini dapat dimanfaatkan dalam melakukan penggantian air di tambak.