Pengukuran Beda Phasa Listrik
A. Mengukur Beda Fasa Tegangan dengan Arus Listrik AC.
Beda phasa dapat diukur dengan rangkaian C1 danR1. Tegangan U1 menampakkan tegangan catu dari generator AC. Tegangan U2 dibagi dengan nilai resistor R1 representasi dari arus listrik AC. Pergeseran phasa U1 dengan U2 sebesar Dx.
Misalnya: ϕ = Δx · 360°/XT
= 2 div · 360°/8div = 90°
Tampilan sinyal sinusoida tegangan U1 (tegangan catu daya) dan tegangan U2 (jika dibagi dengan R1, representasi dari arus AC).
Pergeseran phasa antara tegangan dan arus sebesar ϕ =900
![]()
Gambar 9.6 Pengukuran Beda Fasa
B. Metode Lissajous
Dua sinyal dapat diukur beda phasanya dengan memanfaatkan input vertikal (kanal Y) dan horizontal (kanal-X). Dengan menggunakan osiloskop dua kanal dapat ditampilkan beda phasa yang dikenal dengan metode Lissajous.
![]()
Gambar 9.7 Prinsip Pengukuran Metoda Lissajous
Beda phasa 0° atau 360°.
Dua sinyal yang berbeda, dalam hal ini sinyal input dan sinyal output jika dipadukan akan menghasilkan konfigurasi bentuk yang sama sekali berbeda. Sinyal input dimasukkan ke kanal Y (vertikal) dan sinyal output dimasukkan ke kanal X (horizontal) berbeda 0°, dipadukan akan menghasilkan sinyal paduan berupa garis lurus yang membentuk sudut 45°.
![]()
Gambar 9.8 Beda Fasa nol atau 360o antara Input dan Output
Beda phasa 90° atau 270°.
Sinyal vertikal berupa sinyal sinusoida. Sinyal horizontal yang berbeda phasa 90° atau 270° dimasukkan. Hasil paduan yang tampil pada layar CRT adalah garis bulat.
![]()
Gambar 9.9 Beda Fasa 90o atau 270o antara Input dan Output