Warning: Use of undefined constant X - assumed 'X' (this will throw an Error in a future version of PHP) in /home/tneutron/public_html/wp-content/themes/jarida_disabled/functions.php on line 7
" /> Bahan Pembuat Resistor – TN Elektro
Notice: Undefined index: font in /home/tneutron/public_html/wp-content/themes/jarida_disabled/functions/common-scripts.php on line 150

Notice: Undefined index: font in /home/tneutron/public_html/wp-content/themes/jarida_disabled/functions/common-scripts.php on line 150

Notice: Undefined index: font in /home/tneutron/public_html/wp-content/themes/jarida_disabled/functions/common-scripts.php on line 150
Home > Teknik Listrik > Rangkaian Listrik Dasar > Bahan Pembuat Resistor

Bahan Pembuat Resistor

Kebanyakan resistor-resistor film bahan jenis lapisan logam mempunyai nilai disipasi daya nominal tipikal sebasar 250mW sampai dengan nilai nominal 2W. Pada resistor lilitan kawat dibuat dengan cara melilitkan kawat resistansi pada sebuah bahan isolator. Bahan resistansi yang lazim dipergunakan adalah khrom-nikel (nichrome), senyawa-senyawa nikel (Eureka), dan senyawasenyawa dari nikel dan perak. Proses pembuatan kawat dilakukan dengan cara menarik dengan menggunakan mesin cetakan yang telah disesuaikan ukurannya dan kemudian disepuh agar dihasilkan kulitas yang baik.

Kawat yang telah terbentuk, harus mempunyai keseragaman yang baik, dapat dengan mudah dibentuk, tahan korosi, dan mempunyai resistivitas yang cukup tinggi. Kemampuan mudah dibentuk adalah salah satu persyaratan yang penting, dengan demikian bila kawat tersebut dililitkan, tidak akan mudah retak atau patah. Karakteristik dan pola kegagalan resistor sangat tergantung pada jenis bahan yang digunakan, metoda pembuatan, situasi operasi dan lingkungan, serta nilai resistansinya.

Pada waktu beroperasi, setiap resistor harus mendisipasikan daya. Pada kondisi suhu keliling rendah dapat didisipasikan sejumlah daya yang besar, tetapi untuk disipasi daya yang lebih rendah akan menghasilkan tingkat stabilitas yang lebih baik dengan tingkat kesalahan yang lebih rendah. Karena secara umum resistor mempunyai bentuk dan konstruksi yang seragam, maka kenaikan suhu yang disebabkan oleh daya yang terdisipasikan akan maksimum di bagian tengah badan resistor. Proses ini yang dinamakan suhu titik panas.
image
Gambar 3.7. Fisik resistor

image
Gambar 3.8. Kode warna resistor tetap

Contoh Cara membaca resistor dengan 4 kode warna
Pita ke-1 = MERAH = 2 (Nilai digit ke-1)
Pita ke-2 = UNGU = 7 (Nilai digit ke-2)
Pita ke-3 = KUNING = 1K = 1000 (Faktor Pengali)
Pita ke-4 = EMAS = 5 % (Toleransi)

Jawabannnya adalah 27 x 1000 ± 5% = 27.000 ± 5%
R maks = 27.000 + (5% x 27.000) = 28.350 Ω
R min = 27.000 – (5% x 27.000) = 25.650 Ω

Contoh Cara membaca resistor dengan 5 kode warna
Pita ke-1 = BIRU = 6 (Nilai digit ke-1)
Pita ke-2 = MERAH = 2 (Nilai digit ke-2)
Pita ke-3 = COKLAT= 1 (Nilai digit ke-3)
Pita ke-4 = COKLAT = 10 (Faktor Pengali)
Pita ke-5 = COKLAT = 1% (Toleransi)

Jawabannya adalah : 621 x 10 ± 1% = 6.210 ± 1%
R maks = 7.540 + (1% x 7.540) = 7.615,4 Ω
R min = 7.540 – (1% x 7.540) = 7464,6 Ω
Dengan koefisien temperature 50 ppm.

Contoh Cara membaca resistor dengan 6 kode warna
Pita ke-1 = UNGU = 7 (Nilai digit ke-1)
Pita ke-2 = HIJAU = 5 (Nilai digit ke-2)
Pita ke-3 = KUNING= 4 (Nilai digit ke-3)
Pita ke-4 = COKLAT = 10 (Faktor Pengali)
Pita ke-5 = COKLAT = 1% (Toleransi)
Pita ke-6 = MERAH = 50 ppm (Koefisien temperatur)

Jawabannya adalah : 754 x 10 ± 1% = 7.540 ± 1%, 50 ppm
R maks = 7.540 + (1% x 7.540) = 7.615,4 Ω
R min = 7.540 – (1% x 7.540) = 7464,6 Ω
Dengan koefisien temperature 50 ppm.


Notice: Undefined index: tie_hide_share in /home/tneutron/public_html/wp-content/themes/jarida_disabled/single.php on line 79