Home > Dasar Pengukuran Listrik > Peralatan Ukur Listrik > Terminologi Dalam Pengukuran Listrik

Terminologi Dalam Pengukuran Listrik

Pengukuran adalah proses untuk mendapatkan informasi besaran fisis tertentu, seperti tegangan (V), arus listrik (I), hambatan (R), konduktivitas (ρ), dan lainnya. Data yang diperoleh dapat berupa nilai dalam bentuk angka (kuantitatif) maupun berupa pernyataan yang merupakan sebuah pernyataan atau generalisasi (kualitatif). Informasi yang diperoleh dalam suatu pengukuran disebut data. Sesuai dengan sifat pengukuran maka data dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu : (1) data kuantitatif, dan (2) data kualitatif.

Dalam sistem transmisi tenaga listrik dikenal istilah-istilah sebagai berikut: tegangan tinggi, tegangan ekstra tinggi, dan tegangan ultra tinggi. Pernyataan tentang tegangan tersebut disebut sebagai data kualittatif. Bila informasi yang diperoleh dalam pengukuran berupa nilai/angka maka data itu disebut data kuantitatif, misalnya sebuah pengukuran tegangan diperoleh ( 220 ± 5%) volt. Data yang diperoleh dari hasil pengumpulan data, dapat digolongkan menjadi dua jenis, yaitu: (1) data empiris, dan (2) data terproses.

Data empiris diperoleh langsung saat dilakukan pengukuran (apa yang terbaca pada alat ukur). Data empiris sering disebut juga data mentah karena belum diproses lebih lanjut. Nilai tegangan yang terbaca pada voltmeter merupakan data empiris. Data Terproses diperoleh setelah dilakukan pengolahan tertentu, misalnya melalui sebuah perhitungan. Sebagai contoh jika diukur tegangan V dan arus I maka hambatan R = V/I setelah dihitung hasilnya disebut data terproses. Data tipe ini biasanya diperoleh dari proses reduksi data.

Berkaitan dengan data di atas maka setelah data terkumpul dari hasil suatu pengukuran selanjutnya dilakukan proses perhitungan-perhitungan matematik atau dilakukan penyusunan ulang data-data. Proses/prosedur ini disebut reduksi data atau pengolahan data.

Alat ukur listrik merupakan peralatan yang diperlukan oleh manusia. Karena besaran listrik seperti : tegangan, arus, daya, frekuensi dan sebagainya tidak dapat secara langsung ditanggapi oleh panca indera. Untuk mengukur besaran listrik tersebut, diperlukan alat pengubah. Atau besaran ditransformasikan kedalam besaran mekanis yang berupa gerak dengan menggunakan alat ukur. Perlu disadari bahwa untuk dapat menggunakan berbagai macam alat ukur listrik perlu pemahanan pengetahuan yang memadai tentang konsep – konsep teoritisnya.

Dalam mempelajari pengukuran dikenal beberapa istilah, antara lain :
Instrumen : adalah alat ukur untuk menentukan nilai atau besaransuatu kuantitas atau variabel.
Ketelitian : harga terdekat dengan mana suatu pembacaan instrumen mendekati harga sebenarnya dari variabel yang diukur.
Ketepatan : suatu ukuran kemampuan untuk hasil pengukuran yang serupa
Sensitivitas : perbandingan antara sinyal keluaran atau respons instrumen terhadap perubahan masukan atau variabel yang diukur.
Resolusi : perubahan terkecil dalam nilai yang diukur yang mana instrumen akan memberi respon atau tanggapan.
Kesalahan : penyimpangan variabel yang diukur dari harga (nilai) yang sebenarnya.

Alat ukur listrik dikelompokkan menjadi dua, yaitu: (1) alat ukur standard, dan (2) alat ukur sekunder. Alat ukur standar lazim disebut sebagai alat ukur absolut; merupakan alat ukur yang menunjukkan besaran dari komponen listrik yang diukur dengan batas-batas pada konstanta dan penyimpangan pada alat itu sendiri. Ini menunjukkan bahwa alat tersebut tidak perlu dikalibrasi atau dibandingkan dengan alat ukur lainnya lebih dahulu. Contoh dari alat ukur ini adalah galvanometer.

Alat ukur sekunder merupakan alat ukur yang menunjukkan harga besaran listrik yang diukur dan dapat ditentukan hanya dari simpangan alat ukur tersebut. Sebelumnya alat ukur sudah dikalibrasi dengan membandingkan pada alat ukur standar/absolut. Contoh dari alat ukur ini adalah alat ukur listrik yang sering dipergunakan sehari-hari.