Logika boolean atau logika rele dapat digunakan dalam suatu kontrol sekuensial sederhana. Sebagai contoh, katakanlah kita menginginkan menghidupkan (turn on) sebuah lampu pilot jika salah satu fan A atau fan B bekerja. Untuk mendeteksi status fan dipasang differential pressure switch pada fan. Kontak switch tersebut akan terbuka jika tekanan fan rendah dan akan menutup jika tekanan fan tinggi. Untuk membuat lampu pilot menyala ketika fan aktif, maka kedua kontak fan tersebut dipasang parallel seperti diperlihatkan dalam Gambar 2.15.
Jika kita ingin menghidupkan lampu pilot ketika fan A dan fan B aktif bekerja , maka kedua kontak switch harus dipasang seri.
![]()
Gambar 2.15 Logika rele OR (A atau B) dan AND (A dan B)
Dengan notasi logika Boolean, jika peristiwa penyelaan lampu pilot diberi label C, maka dua peristiwa sekuensial berikutnya dapat dituliskan sebgai berikut:
If (A or B) then C (rangkaian paralel – baris 1)
If (A and B) then C (rangkaian seri – baris 2)
Katakan, kita ingin lampu pilot tersebut menyala ketika salah satu dari fan tersebut bekerja, tetapi ketika kedua fan bekerja lampu tidak dapat menyala. Untuk keperluan itu dibutuhkan sakelar single-pole double-through (SPDT) seperti diperlihatkan dalam Gambar 2.16.Terlihat dalam gambar tersebut, bagaimana kontak double-through dapat digunakan untuk menyalakan lampu bila salah satu fan bekerja. Tetapi ketika kedua fan bekerja lampu malahan padam. Logika ini dapat diekspresikan sebagai berikut:
If (A or B) and NOT (A and B) then C
Kontak SPDT banyak diterapkan pada two-position thermostat, dan differential pressure switch.
![]()
Gambar 2.16 Simbol Kontaktor