Yang dimaksud dengan efisiensi ialah perbandingan antara output dan input dan dinyatakan dalam persen ( % ). Terjadinya perbedaan antara output dan input dikarenakan adanya kerugian-kerugian diantaranya terjadinya kebocoran di dalam pompa sehingga akan mengurangi volume output. Secara keseluruhan, kebocran dapat terjadi pada pompa hidrolik, katup-katup, aktuator dan pada setiap konektor. Sehingga dalam hal ini perbandingan antara volume cairan hidrolik yang secara efisien menghasilkan daya di banding dengan penghasilan pompa teoritis disebut efisiensi volumetrik (ƞv).
Penghasilan pompa (misal:pompa roda gigi) secara teoritis dapat dihitung dengan rumus :
![]()
Q = penghasilan pompa teoritis ( l/min.)
n = putaran pompa ( r.p.m )
V = volume caiaran yang dipindahkan tiap putaran ( cm3 )
Penghasilan pompa tergantung pada besar tekanan kerja sistem hidrolik. Semakin besar tekanan, penghasilan pompa (Q) akan semakin berkurang. Karakteristik pompa semacam ini dapat kita lihat pada gambar 13.
![]()
Gambar 13. Semakin beser tekanan semakin berkurang penghaslan
Apabila p = 0 , penghasilan pompa Q penuh ( Q teoritis)
Apabila p > 0 , penghasilan pompa berkurang karena adanya kebocoran dan secara logika semakin tinggi tekanan akan semakin besar pula kebocoran.
Contoh :
Untuk pompa yang baru , kebocoran 6 % pada p = 230 bar.
Q( p=0) = 10 l/min.
Q(p=230) = 9,4 l/min.
QL = 0,6 l/min.
Jadi efisiensi volumetrik ( ƞv ) = 94 %
Untuk pompa yang lama, kebocoran mencapai 13 % pada p = 230 bar
Q(p=0) = 10 l/min.
Q(p=230) = 8,7 l/min.
QL = 1,3 l/min.
Jadi efisiensi volumetrik ( ƞv) = 87 %
Cara-cara pengaturan/pengendalian di dalam sistem hidrolik susunan urutannya dapat kita jelaskan sebagai berikut :
- Isyarat (Signal) masukan atau input element mendapat energi langsung dari pembangkit aliran fluida ( pompa hidrolik ) yang kemudian diteruskan ke pemroses sinyal.
- Isyarat pemroses atau processing element yang memproses sinyal masukan secara logic untuk diteruskan ke final control element.
- Sinyal pengendali akhir ( Final control element ), akan mengarahkan out put yaitu arah gerakan aktuator ( Working element ) dan ini merupakan hasil akhir dari sistem hidrolik .
Komponen-komponen kontrol tersebut di atas biasa disebut katup-katup ( Valves ). Menurut kontruksinya katup-katup tersebut dikelompokkan sebagai berikut :
a. Katup Poppet (Poppet Valves)
Yaitu apabila untuk menutup katup tersebut dengan cara menekan anak katup (bola atau kones atau piringan) pada dudukan . Menurut jenis anak katupnya, katup poppet digolongkan menjadi :
– Katup bola ( Ball seat valves )
– Katup kones ( Cone popet valves )
– Katup Piringan ( Disc seat valves )
b. Katup Geser ( Slide valves )
– Longitudinal Slide
– Plate Slide (Rotary slide valve)
Menurut fungsinya katup-katup dikelompokkan sebagai berikut :
1). Katup pengarah ( Directional control valves )
2). Katup satu arah ( Non return valves )
3). Katup pengatur tekanan ( Pressure cotrol valves )
4). Katup pengontrol aliran ( Flow control valves )
5). Katup buka-tutup ( Shut-off valves )