Warning: Use of undefined constant X - assumed 'X' (this will throw an Error in a future version of PHP) in /home/tneutron/public_html/wp-content/themes/jarida_disabled/functions.php on line 7
" /> Keawetan dan Pengawetan Kayu – TN Seni
Notice: Undefined index: font in /home/tneutron/public_html/wp-content/themes/jarida_disabled/functions/common-scripts.php on line 150

Notice: Undefined index: font in /home/tneutron/public_html/wp-content/themes/jarida_disabled/functions/common-scripts.php on line 150

Notice: Undefined index: font in /home/tneutron/public_html/wp-content/themes/jarida_disabled/functions/common-scripts.php on line 150
Home > Teknologi Bahan Furnitur > Pemeriksaan Bahan Kayu > Keawetan dan Pengawetan Kayu

Keawetan dan Pengawetan Kayu

(a) Keawetan Alami Kayu
Keawetan diartikan sebagai daya tahan kayu terhadap serangan faktor perusak kayu dari golongan biologis. Keawetan alami ditentukan oleh zat ekstratif yang bersifat racun terhadap faktor perusak tadi, sehingga dengan sendirinya keawetan alami ini akan bervariasi sesuai dengan variasi jumlah serta jenis zat ekstraktifnya. Hal ini menyebabkan keawetan alami berbeda-beda menurut jenis kayu yang sama maupun dalam pohon yang sama.

Variasi keawetan dalam pohon yang sama terjadi antara kayu gubal dengan kayuteras. Kayu gubal mempunyai keawetan yang rendah karena gubal tidak mengandung zat ekstraktif. Inilah sebabnya penggolongan keawetan kayu didasarkan didasarkan pada keawetan kayu terasnya. Variasi keawetan juga terdapat di dalam kayu teras, dimana kayu teras bagian luar lebih awet dibandingkan kayu teras bagian dalam. Hal ini dihubungkan dengan umur pohon ketika kayu teras tersebut dibentuk.

Melihat hal-hal diatas, maka untuk pengujian keawetan sesuatu jenis kayu, pengambilan contoh juga harus dilakukan dengan hati-hati. Di Indonesia keawetan alami kayu dibagi ke dalam 5 kelas berdasarkan umur/masa pakai dan kondisi tempat penggunaan kayu seperti terlihat pada tabel dibuat oleh Pfeiffer dan telah diperbaiki oleh LPH. Umur/masa pakai (dalam) tahun menurut penggolongan kelas awet :
image

Pembagian ini hanya berlaku untuk dataran rendah tropik dan tidak termasuk ketahanan terhadap cacing laut.

(b) Permeabilitas Kayu
Permeabilitas diartikan sebagai mudah tidaknya kayu ditebus oleh zat cair. Sama seperti pada keawetan permeabilitas kayu sangat bervariasi. Kayu gubal mempunyai sifat permeabilitas yang baik karena bagian ini tadinya berfungsi sebagai penyaluran air dari akar menuju ke daun. Kayu teras mempunyia sifat permeabilitas yang kurang baik, karena terbentuknya filosis serta deposit-deposit lain yang menutupi sel-sel kayu.
Permeabilitas kayu serin juga disebut treatabilitas yaitu mudah tidaknya kayu diperlakukan/diawetkan.

Treatabilitas Kayu dibagi ke dalam 3 golongan, yaitu :
a. Sarang (Permeable) : Kayu ini dapat dipenetrasi seluruhnya di dalam silinder tekan atau mudah diimpreginasi pada proses randaman.
b. Sedang (Moderate) : Penetrasi internal sebesar ¼ – ½ inchi (o,6 – 1,2 cm) dapat dicapai dalam waktu 2 – 3 jam dibawah tekanan
c. Sukar (Difficulf) : Kayu ini membutuhkan waktu yang sangat lama untuk mencapai penetrasi sedalam 1/8 – ¼ inchi (0,3 – 0,6 cm) di bawah tekanan.

(c) Pengujian Keawetan Alami
Keawetan alami terhadap faktor perusak kayu golongan biologis dapat ditentukan dengan 2 cara Yaitu :
a. Cara Kuburan
Dalam cara ini, kayu dalam ukuran tertentu ditanam dilapangan dan diperiksa dalam jangka waktu tertentu untuk menentukan masa pakai/umurnya. Cara ini mempunyai kelemahan-kelemahan antara lain :
– Waktu pengujian sangat penjang sehingga menyulitkan dalam pengamatan.
– Lapangan pengujian harus selalu dirawat agar tidak berubah menjadi semak-semak.
– Sulit menetapkan apakah rusaknya kayu tersebut disebabkan oleh cendawan atau rayap, bila kedua faktor tersebut terdapat bersama-sama pada lapangan pengujian.

b. Cara Laboratorium
Cara ini waktunya lebih pendek dan umur/masa pakai kayu ditentukan dari besarnya kehilangan berat contoh uji. Cara ini mengatasi kelemahan-kelemahan cara kuburan, akan tetapi juga masih mempunyai kelemahan antara lain ialah hanya jenis-jenis perusak kayu tertentu yang dapat dibiakkan di Laboratorium dan sulit mengatur kondisi yang sesuai dengan kondisi alam sebenarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*