Kegiatan pemeliharaan peralatan merupakan kegiatan yang sangat penting karena hal ini dapat memperlambat kerusakan, mempertahankan fungsi/kegunaan tungku, keawetan, dan keamanannya. Oleh sebab itu, secara periodik dan terjadwal kegiatan pemeliharaan harus terus dilakukan. Pemeliharaan peralatan bertujuan:
- Memperpanjang usia pakai peralatan
- Menjamin kesiapan peralatan
- Menjamin daya guna dan hasil guna
- Menjamin keselamatan pemakai
Pemeliharaan yang terprogram akan sangat memudahkan pengontrolan kesiapan atas peralatan yang akan digunakan. Untuk itu, sebaiknya semua peralatan terutama perlatan yang digerakkan dengan tenaga listrik harus dilengkapi dengan kartu pemakaian, kartu perawatan/pemeliharaan, dan kartu perbaikan. Demikian juga halnya dengan tungku listrik. Pemeliharaan tungku listrik memerlukan kecermatan dan ketelitian karena akan sangat menentukan hasil akhir pembakaran.
1 Alat
1) Vacum Cleaner
2) Kuas
3) Multi Tester
4) Sikat Kawat
2 Bahan
a) Styrofoam
b) Cat tahan panas dan tahan karat
3 Prosedur Pemeliharaan Tungku Listrik
a) Dalam proses pembakaran, pada tahap pemanasan awal sebaiknya pintu tungku tidak ditutup rapat (dibuka sedikit) dan lubang ventilasi serta lubang pengintai (spy hole) dibiarkan terbuka hingga suhu 600oC. Hal ini dimaksudkan agar uap air dari benda keramik atau glasir dapat keluar sehingga tidak sampai membuat karat atau keropos logam konstruksi tungku.
b) Membersihkan bagian dalam tungku dari kotoran debu atau pecahan halus benda keramik menggunakan vacum cleaner.
c) Menambal bagian dinding, alas, dan atap yang retak atau terkikis dengan semen tahan api dengan cara membasahi bagian yang retak dengan air dalam menggunakan kuas sebelum penambalan dilakukan.
d) Mengganti dengan segera bata tahan api yang patah dengan perekat semen tahan api.
e) Menghindarkan bahan-bahan yang mudah mengeluarkan asap pada proses pembakaran.
f) Menghindarkan penggunaan tungku listrik untuk proses pembakaran reduksi.
g) Memeriksa kumparan tungku listrik dengan cara sebagai berikut:
- Menggunakan styrofoam
– Menghubungkan aliran listrik pada tungku untuk menghidupkan saklar.
– Menempelkan styrofoam pada kumparan. Jika kumparan berfungsi maka stryrofoam akan meleleh karena panas, sebaliknya jika stryrofoam tidak meleleh, berarti kumparan putus atau tidak ada aliran listrik.
- Menggunakan multitester
– Memutar saklar pada posisi ohm.
– Menghubungkan kedua kabel multitester pada masingmasing bagian ujung kumparan. Bila jarum multimeter bergerak ke kanan, berarti kumparan berfungsi, tetapi bila jarum multimeter tidak bergerak, berarti kumparan putus. Sebaiknya kumparan yang telah putus segera diperbaiki atau diganti dengan yang baru.
h) Kumparan yang kendur dan keluar dari tempatnya dimasukkan kembali dengan cara menghidupkan tungku sehingga kumparan sedikit panas, kemudian dengan menggunakan dua batang kayu kering, dorong kumparan pada tempatnya. Hal ini harus dilakukan secara hati-hati karena sifat kumparan yang mudah patah.
![]()
Gambar 43. Cara memperbaiki kumparan kendur.
i) Kumparan yang putus disambung dengan cara menambahkan kumparan yang memiliki diameter kumparan dan diameter kumparan yang sama. Hal ini harus dilakukan dalam keadaan tungku mati (tidak ada aliran listrik)
![]()
Gambar 44. Cara menyambung kumparan kendur putus.
j) Bersihkan bagian tungku listrik yang berkarat dengan menggunakan sikat kawat, kemudian dicat kembali dengan cat yang tahan panas dan tahan karat.