Desain Kemasan

Untuk menambah daya tarik suatu produk, salah satu rangkaian/bagian pengemasan yang penting untuk diperhatikan adalah desain kemasan. Suatu desain bisa saja menjadi trade mark pada masa tertentu namun kita juga harus mempertimbangkan seberapa lama produk tersebut akan bertahan pada posisinya. Oleh karena itu perlu dipikirkan untuk memperbaharui konsep desain yang telah ada. Inovasi pada kemasan produk memang perlu dilakukan asalkan kemasan baru tersebut tetap mempertahankan beberapa unsur lama.

Hal yang perlu diperhatikan ketika ingin mengubah suatu desain adalah respon dari konsumen. Jangan sampai suatu perubahan dilakukan secara drastis dengan mengubah semua sisi. Hal ini akan berdampak buruk dengan hilangnya citra produk yang kita pasarkan. Ada baiknya kita mengubah sedikit demi sedikit sambil mengenalkan perubahan baru tersebut kepada konsumen. Karena tanpa komunikasi maka kemungkinan kecil perubahan baru tersebut dapat diterima dengan cepat.

Desain kemasan harus dibuat semenarik dan secantik mungkin untuk menambah nilai jual suatu produk. Ketika mendesain kemasan, beberapa unsur yang harus tercantum dalam kemasan antara lain:

  • · Nama produk
  • · Nomor pendaftaran produk
  • · Komposisi bahan penyusun produk
  • · Kode produksi
  • · Berat/volume produk
  • · Aturan pemakaiannya,
  • · Tanggal kadaluarsa
  • · Peringatan akan bahaya samping
  • · Cara penyimpanan
  • · Nama pabrik pembuatnya
  • · Merek dagang
  • · Kualitas produk

Desain kemasan kemudian diwujudkan dalam bentuk label kemasan. Teknik pelabelan bisa dicetak, bisa juga secara sederhana yaitu dengan sablon. Kemasan sebagai bahan pelindung dan pembatas terhadap lingkungan dapat membantu melindungi mutu produk selama distribusi, menambah ketertarikan konsumen terhadap produk (tampilan fisik), dan mempermudah pemberian informasi mengenai produk. Kemasan yang langsung berhubungan dengan produk disebut sebagai kemasan primer. Ada berbagai jenis kemasan yaitu dari kertas (termasuk karton), plastik, metal seperti aluminium atau stainless steel, komposit (campuran), dan foil berupa lapisan tipis baik dari metal seperti aluminium atau plastik. Dari berbagai jenis kemasan tersebut plastik semakin mendominasi karena dapat dibentuk dalam berbagai ukuran dan bentuk sesuai kebutuhan, ringan, kuat sekaligus fleksibel.

Kemasan primer untuk produk ikan ditentukan oleh jenis produk yang hendak dikemas. Kemasan untuk ikan curah berbeda dengan ikan di tingkat eceran. Untuk ikan segar curah, kemasan berupa wadah yang terbuat dari plastik Polyetilen (HDPE) densitas tinggi memberikan berbagai kemudahan yaitu kuat sekaligus ringan, mudah dibersihkan dan tahan terhadap bahan-bahan kimia. HDPE dapat dipakai untuk mengemas beragam bobot ikan beserta es untuk pendingin untuk jarak distribusi yang cukup jauh. Untuk ikan bentuk fillet yang dikemas dalam wadah PE, harus disusun dengan tumpukan tipis dan diberi pembatas plastik. Kemasan dari plastik polystiren sulit dibersihkan dan dipakai ulang, sedangkan stirofoam memiliki kelemahan tidak kuat dan mudah pecah.

Untuk produk ikan segar, beku, maupun olahan di tingkat eceran, beragam jenis kemasan dapat dipakai untuk memenuhi kebutuhan mempertahankan kesegaran, menunjukkan tampilan raga produk yang berkualitas, mudah dibawa oleh pembeli, dan mudah diberi label.

Plastik shrink adalah plastik yang dikemaskan pada produk ikan seperti ikan asap atau lainnya, yang kemudian ketika dipanaskan akan mengkerut dan melekat di produk sesuai bentuk aslinya. Kemasan ini menghasilkan pula kemasan vakum. Jenis film plastik yang sesuai untuk tingkat eceran ini yaitu PE densitas rendah, PE densitas linier, PE Terephtalate (PET). Plastik polistiren kurang cocok karena masih tembus gas/udara sehingga harus dilapisi lagi dengan film yang kedap udara. Komposit dari kertas/karton yang dilapisi PE atau aluminium foil (disertai adanya bagian tembus pandang untuk visualisasi) dapat pula dipakai untuk kemasan produk segar atau beku yang lebih banyak.