Home > Pengelolaan Kualitas Air > Kualitas Air Untuk Budidaya > Kualitas Air Budidaya Ikan dan Udang

Kualitas Air Budidaya Ikan dan Udang

Ikan dan udang dapat hidup normal bila lingkungan airnya mempunyai kualitas yang sesuai untuk kehidupannya. Parameter kualitas air yang tidak sesuai dapat berakibat fatal bagi kehidupan biota air pada umumnya. Parameter kualitas air yang sangat berpengaruh dalam kehidupan ikan dan udang antara lain adalah :
a. Suhu
Suhu sangat berpengaruh pada proses metabolisme ikan. Suhu perairan yang optimal (sesuai kebutuhan ikan didaerah tropis) adalah 27 – 31oC. Pada suhu perairan dibawah 250C dapat menurunkan kecepatan metabolisme ikan, sehingga ikan akan terhambat pertumbuhannya. Sedangkan bila suhu perairan di atas 350C dapat menyebabkan kematian ikan.

b. Dissolved Oxygen (DO)
DO atau kelarutan oksigen dalam air merupakan faktor kritis bagi budidaya ikan. Oksigen merupakan kebutuhan pokok bagi biota air pada umumnya. Udara di atmosfir mengandung oksigen sebanyak 20,95% dari volume udara. Sedangkan dalam air kelarutan oksigen diukur dalam mg / liter air atau berat oksigen (mg) per juta mg air (ppm). Kelarutan oksigen tergantung pada;
1. Suhu air
2. Tekanan udara
3. Tekanan uap air

Tabel 1. Kelarutan oksigen jenuh pada air murni dengan berbagai suhu (T – °C) pada tekanan udara 760 mm Hg (1 atmosfir)
image

Proses oksigen masuk dalam darah ikan
Oksigen masuk ke haemoglobin diatur oleh tekanan oksigen. Pada insang tekanan oksigen dalam air lebih tinggi dibanding dalam darah, sehingga oksigen dapat masuk dalam haemoglobin darah. Dalam jaringan oksigen digunakan sangat cepat, menyebabkan tekanan oksigen dalam jaringan lebih rendah dibanding dalam darah, sehingga haemoglobin melepaskan oksigen dari darah ke dalam jaringan.

Tabel 2. Pengaruh oksigen pada ikan
image

Menurut Brown (1987) peningkatan suhu 1°C akan meningkatkan konsumsi oksigen sekitar 10%. Untuk mempertahankan hidupnya, maka makhluk hidup yang tinggal di air baik tanaman maupun hewan tergantung pada kadar oksigen terlarut. Oksigen berfluktuasi secara harian (diurnal) dan musiman tergantung pada pencampuran (miksin) dan prgerakan (turbulensi) massa air, aktifitas fotosintesis respirasi dan limbah (effluent) yang masuk ke badan air.

Di perairan air tawar, kadar oksigen terlarut antara 15 mg/l pada suhu 0º C dan 8 mg/l pada suhu 25ºC. Oksigen sangatlah diperlukan bagi ekosistem yang dibudidayakan. Adanya oksigen sangatlah berpengaruh pada tingkat ketahanan Ekosistem (ikan) itu sendiri untuk bisa mempertahankan hidup. Kadar oksigen terlarut dalam suatu wadah budidaya ikan sebaiknya berkisar antara 7-9 ppm. Konsentrasi oksigen terlarut ini sangat menentukan dalam aquakultur. Kadar osigen terlarut dalam wadah budidaya ikan dapat ditentukan dengan dua cara yaitu dengan cara titrasi dan dengan menggunakan alat yang disebut dengan DO meter (dissolved oxygen).

c. pH
Derajat keasaman atau pH adalah ukuran standar perbandingan ion H+ dan ion OH-, bila dalam keadaan normal jumlah kedua jenis ion sama disebut netral ditunjukkan dengan pH = 7. Keadaan dimana pada air lebih banyak ion H+, maka air dinyatakan asam (pH < 7) dan sebaliknya keadaan dimana pada air lebih banyak ion OH-, maka air dinyatakan basa (alkali – pH > 7). Standard pH yang dibutuhkan pada sebagian besar biota air adalah 6,8 – 8,5.

Apabila air menjadi asam, pH dibawah 4 maka ikan akan mengeluarkan banyak lendir yang mengganggu pernafasan, demikian pula bila pH di atas 8. Untuk itu perlu dilakukan pengukuran kualitas air secara berkala untuk menjaga kualitas air pada kondisi yang normal.

d. Alkalinitas
e. Kesadahan
f. Ammonia
g. Nitrit (NO2ˉ) dan Nitrat (NO3ˉ)
h. Hidrogen Sulfida (H2S)
i. Plankton
j. Salinitas