Magnesium merupakan salah satu jenis logam ringan dengan karakteritik sama dengan Aluminium tetapi Magnesium memiliki titik cair yang lebih rendah dari pada Aluminium. Sepeti pada Aluminium, Magnesium juga sangat mudah bersenyawa dengan udara (Oxygen). Perbedaannya dengan Aluminium ialah dimana magnesium memiliki permukaan yang keropos yang disebabkan oleh serangan kelembaban udara karena oxid film yang terbentuk pada permukaan Magnesium ini hanya mampu melindunginya dari udara yang kering.
Unsur air dan garam pada kelembaban udara sangat mempengaruhi ketahanan lapisan oxid pada Magnesium dalam melindunginya dari gangguan korosi. Untuk itu benda kerja yang menggunakan bahan Magnesium ini diperlukan lapisan tambahan perlindungan seperti cat atau meni.Magnesium murni memiliki kekuatan tarik sebesar 110 N/mm2 dalam bentuk hasil pengecoran (Casting), angka kekuatan tarik ini dapat ditingkatkan melalui proses pengerjaan.
Magnesium bersifat lembut dengan modulus elsatis yang sangat rendah. Magnesium memiliki perbedaan dengan logam-logam lain termasuk dengan Aluminium, besi Tembaga dan Nickel dalam sifat pengerjaannya dimana Magnesium memiliki Strutur yang berada didalam kisi hexagonal sehingga tidak mudah terjadi slip, oleh karena itu Magnesium tidak mudah dibentuk dengan pengerjaan dingin disamping itu prosentase perpanjangnnya hanya mencapai 5 % dan hanya mungkin dicapai melalui pengerjaan panas.
1. Proses pembuatan Magnesium
Magnesium diperoleh dari bijih Magnesium (MgCO3) dan Dolomit ((CaMg)CO3) serta didalam air laut dalam bentuk Magnesium Cloride. Magnesium dapat diextraksi melalui proses electrolysis sebagaimana pada Aluminium atau dengan Fire reduction melalui pembakaran kokas. Dengan proses-proses tersebut unsur Magnesium akan menguap dalam bentuk Oxide Carbon yang harus segera didinginkan agar Magnesium ini tidak bersenyawa dengan Oxygen.
2. Magnesium Paduan
Perubahan struktur pada Magnesium tidak cukup dapat merubah atau memperbaiki sifatnya, oleh kerana itu perbaikan sifat Magnesium hanya dapat dilakukan dengan menambah unsur lain sebagai unsur paduan kedalam larutan padat dari Magnesium tersebut, dengan demikian akan diperoleh peningkatan pada tegangannya serta dengan tegangan yang memadai juga respon terhadap proses perlakuan panas. Dalam larutan padat ini hanya sedikit saja unsur Magnesium yang dapat masuk termasuk juga unsur Seng jika dibanding dengan Aluminium dan Silver.
Kesimbangan paduan antara Magnesium-Aluminium dan Magnesium-Zincum, mengindikasikan bahwa larutan padat dari Magnesium-Aluminium maupun Magnesium Zincum dapat meningkat sesuai dengan peningkatan Temperaturnya dimana masing-masing berada pada kadar yang sesuai sehingga dapat “strengthening-heat treatment” melalui metoda pengendapan. Hanya sedikit kadar “rare metal” (logam langka) dapat memberikan pengaruh yang sama kecuali pada Silver yang sedikit membantu termasuk pada berbagai jenis logam paduan lain melalui “ageing”.
a) Magnesium paduan tempa
Magnesium paduan tempa dikelompokkan menurut kadar serta jenis unsur paduannya yaitu :
1) Magnesium dengan 1,5 % Manganese
2) Paduan dengan Aluminium , Seng sert Manganese
3) Paduan dengan Zirconium (paduan jenis ini mengandung kadar Seng yang tinggi sehingga dapat dilakukan proses perlakuan panas.
4) Paduan dengan Seng, Zirconium dan Thorium (Creep resisting-Alloys)
b) Magnesium paduan Cor (Cast Alloys)
Paduan ini dapat dikelompokan kedalam :
1. Paduan dengan Aluminium, Zincum dan Manganese, paduan cor ini merupakan paduan yang yang bersifat “heat tretable – Alloys”.
2. Paduan dengan Zirconium, Zincum dan Thorium, paduan dengan unsur Zirconium dan Thorium merupakan paduan cor yang bersifat heat treatable dan creep resisiting.
3. Paduan dengan Zirconium dengan Rare earth metal serta Silver merupakan paduan Cor yang dapat di-heat treatment
4. Paduan dengan Zirconium, beberapa dari paduan Cor ini dapat di-heat treatment.