" /> Kondisi Tempat Penyimpanan Bahan | TN Pangan
Home > Pertanian dan Perikanan > Menyimpan Hasil Pertanian > Kondisi Tempat Penyimpanan Bahan

Kondisi Tempat Penyimpanan Bahan

1. Prinsip FIFO dalam penataan barang menjamin barang yang disimpan di gudang adalah barang yang terbaru. FIFO adalah barang yang masuk lebih dulu diupayakan untuk dapat keluar lebih dulu (First In First Out).
2. Penempatan barang yang ditumpuk keatas perlu diberi pengunci agar terhindar dari resiko barang terjatuh dan ditetapkan jumlah tinggi penumpukan maksimal agar packaging barang tidak rusak (prinsip menata di ruang penempatan yang sempit).
3. Jumlah tumpukan diperhitungkan agar memudahkan untuk melakukan pemeriksaan stock atau stock opname barang (mengubah opname sebulan lebih menjadi 3 hari kerja dengan akurasi yang dipertanggung jawabkan).
4. Menjamin kebenaran jumlah barang dalam packaging sehingga mempercepat proses pengecekan barang sebelum dilakukan pengiriman.
5. Variasi penumpukan barang yang berbeda maksimal 3 item penumpukkan agar mengurangi jumlah pergerakkan petugas manakala mengambil barang yang dibutuhkan (prinsip menata di ruang sempit).
6. Pengelompokkan barang berdasar dimensi dilakukan dalam upaya untuk mengoptimalkan lokasi penempatan barang di gudang.
7. Gang antar penempatan barang dibutuhkan untuk memudahkan petugas dalam melakukan pengecekan identitas dan jumlah barang dalam penempatan.
8. Prinsip menata untuk tujuan akhir, yaitu kecepatan dan ketepatan pelayanan. Tujuan akhir jauh lebih penting karena itu menyangkut performansi gudang dalam memberikan pelayanan kepada pelanggan. Prinsip rapi bisa di wujudkan dengan menciptakan tempat untuk segala sesuatu sehingga segala sesuatu dapat ditempatkan pada tempatnya.

Jenis Bahan Kemas dan Karakteristiknya
Sebagai dasar dalam pembahasan materi ini mari kita kaji terlebih dahulu peraturan tentang wadah dan pembungkus yang terdapat dalam Permentan No 44/Permentan/OT.140/10/2009 sebagai berikut. Wadah dan pembungkus yang digunakan dalam penanganan pasca panen harus:
a. Dapat melindungi dan mempertahankan mutu isinya terhadap pengaruh dari luar.
b. Dibuat dari bahan yang tidak melepaskan bagian atau unsur yang dapat mengganggu kesehatan atau mempengaruhi mutu makanan.
c. Tahan atau tidak berubah selama pengangkutan dan peredaran.
d. Sebelum digunakan dibersihkan dan dikenakan tindakan sanitasi.
e. Wadah dan bahan pengemas disimpan pada ruangan yang kering, ventilasi yang cukup dan dicek kebersihan dan infestasi jasad pengganggu sebelum digunakan.

Berdasarkan pasal tersebut, bahan yang digunakan dalam proses pengemasan harus diperhatikan dengan baik karena merupakan bagian penting dalam proses pengemasan. Seperti telah diuraikan di atas bahwa bahan kemasan dapat berupa bahan alami maupun sintetis. Bahan alami dapat berupa daun pisang, daung jagung, berbagai macam jenis serat tanaman yang dianyam dan lain-lain. Bahan kemasan sintetis dapat berupa plastik, kertas, dan lain-lain.

Kedua jenis bahan kemasan tersebut pada prinsipnya dapat digunakan baik secara sendiri-sendiri maupun bersamaan. Ruang lingkup bidang kemasan saat ini sudah semakin luas, mulai dari bahan yang sangat bervariasi hingga bentuk dan teknologi kemasan yang semakin menarik. Bahan kemasan yang digunakan bervariasi dari bahan kertas, plastik, kayu, logam, fiber hingga bahan-bahan yang dilaminasi.

Bentuk dan teknologi kemasan juga bervariasi dari kemasan berbentuk kubus, limas, tetrapak, corrugated box, kemasan tabung hingga kemasan aktif dan pintar (active and intelligent packaging) yang dapat menyesuaikan kondisi lingkungan di dalam kemasan dengan kebutuhan produk yang dikemas. Produk dalam kantong plastik, dibalut dengan daun pisang, sekarang juga sudah berkembang sampai dalam bentuk botol dan kemasan yang cantik.