Kitinoja (2003) menjelaskan secara lebih mendetil tentang pengemasan dengan atmosfir termodifikasi sebagai berikut. Pada kemasan yang ditujukan bagi konsumen: Jika karakteristik bahan dan karakteristik permeabilitasadalah sesuai, suatu kondisi atmosfir dapat berevolusi secara pasif karena konsumsi O2 dan produksi CO2 selama respirasi. Sayur potong segar atau sawi yang diproses secara minimum dapat di kemas dalam kantong plastik setelah sebagian udara dibuat vakum.
Selanjutnya ditambahkan campuran gas 30 sampai 50% O2 dan 4 sampai 6% CO2 ke dalam kantong, dan ditutup.
![]()
Gambar 33. Salad dalam kemasan atmosfir termodifikasi.
Untuk kemasan pengiriman: lapisan plastik polyethylene di tambahkan ke dalam kotak kemasan pengiriman cherry. Kantong plastik polyethylene dipakai untuk membungkus pisang yang mengalami pemasaran dengan perjalanan yang jauh.
![]()
Gambar 34. Pisang dalam kemasan berlapis plastik polyethylene
Untuk suatu pallet: Satu muatan palet produk seperti stroberi dapat di tutup dengan 5 milkantong plastik polyethylene dan helai atau lembar plastik pada dasar pallet menggunakan pita perekat lebar. Selanjutnya, kemasan dibuat vakum dan dan dimasukkan sedikti CO2 15% melalui selang kecil.
![]()
Gambar 35. Kemasan dalam palet
Dikenal berbagai macam jenis plastik untuk pengemasan, tapi sangat sedikit plastic yang mempunyai permeabilitas sesuai untuk MAP. Plastik polyethylene dan polyvinyl chloride dengan kerapatan rendah adalah plastik film utama yang dipakai untuk pengemasan buah segardan sayur. Plastik dan polyester memiliki permeabilitas gas yang rendah yang hanya cocok untuk produk segar dengan laju respirasi rendah.
Tabel 8. Permeabilitas plastik film yang saat ini tersedia untuk produk segar
![]()