Data raster sangat baik untuk merepresentasikan batas-batas yang berubah secara gradual, seperti jenis tanah, kelembaban tanah, vegetasi, suhu tanah dan sebagainya. Keterbatasan utama dari data raster adalah besarnya ukuran file; semakin tinggi resolusi grid-nya semakin besar pula ukuran filenya dan sangat tergantung pada kapasistas perangkat keras yang tersedia. Masing-masing format data mempunyai kelebihan dan kekurangan.
Data raster (atau disebut juga dengan sel grid) adalah data yang dihasilkan dari sistem Penginderaan Jauh. Pada data raster, obyek geografis direpresentasikan sebagai struktur sel grid yang disebut dengan piksel (picture element). Pada data raster, resolusi (definisi visual) tergantung pada ukuran piksel-nya. Dengan kata lain, resolusi piksel menggambarkan ukuran sebenarnya di permukaan bumi yang diwakili oleh setiap piksel pada citra. Semakin kecil ukuran permukaan bumi yang direpresentasikan oleh satu sel, semakin tinggi resolusinya.
Pemilihan format data yang digunakan sangat tergantung pada tujuan penggunaan, data yang tersedia, volume data yang dihasilkan, ketelitian yang diinginkan, serta kemudahan dalam analisa. Matrik raster memiliki bentuk yang teratur secara geometrik dan telah terurut secara otomatis, oleh sebab itu setiap posisi sel atau posisi pikselnya tidak harus direkam satu per satu. Jika semuanya direkam malah terjadi pemborosan memori yang sebenarnya tidak perlu.
Hal inilah yang membedakannya dengan data vektor. Meskipun demikian, beberapa koordinat lokal [dalam satuan kolom baris] ( yang dijadikan sebagai ground control point atau GCPs) yang ada di dalam sekumpulan data raster sangat diperlukan untuk mengikatkan (me-register) sistem grid ini terhadap suatu sistem koordinat yang dikehendaki. Sementara itu, untuk membaca (content) file data raster dengan benar, urutan perekaman data tersebut harus diperhatikan.
Raster memiliki karakteristik yang dapat membedakannya satu sama lain. Karakteristik ini bisa mencakup resolusi spasial, temporal, spektral, orientasi (terhadap arah utara), keberadaan zone (area dimana piksel-pikselnya memiliki nomor pengenal yang sama), domain nilai piksel (intensitas), dan koordinat piksel.
![]()
Gambar 2. Contoh Tampilan Sistem Koordinat Data Raster Setelah Transformasi
Pada sistem koordinat seperti ini (paska transformasi), titik asal koordinat (X0, Y0), data raster terletak di titik sudut kiri bawah. Selain itu, terdapat sejumlah M kolom (absis) dan N baris (ordinat) sesuai dengan arah sumbu koordinat masing-masing. Setiap piksel atau sel grid memiliki nilai lebar a dan tinggi b (sesuai dengan resolusi spasialnya). Maka dengan memperhatikan nilai-nilai ini, koordinat-koordinat titik sudut lainnya adalah kiri-atas (Xo,Yo+N*b), kanan-bawah (Xo+M*a,Yo), dan kanan-atas (Xo+M*a,Yo+N*b).
Dengan memanfaatkan prinsip hitungan yang sama, maka dapat diketahui bahwa koordinat titik pusat piksel baris ke i dan kolom ke j adalah (Xo+(j-0.5)*a, Yo +(i-0.5)*b. Sedangkan batas-batas piksel baris ke i dan kolom ke j adalah (Xo+( j-1)*a <X< Xo + j*a) untuk X, dan (Yo + (i-1)*b<Y<Yo+ i*b) untuk Y.