Ikan Pindang

Ikan pindang merupakan ikan hasil pengawetan atau yang digemari masyarakat karena produk akhirnya mempunyai rasa yang khas dan tidak terlalu asin. Ikan pindang diolah dengan cara mengkombinasikan dua metode pengawetan, yaitu penggaraman dan perebusan. Pemindangan ikan dilakukan dengan cara merebus ikan dalam larutan garam selama jangka waktu tertentu. Fungsi garam adalah untuk memperbaiki tekstur ikan agar lebih kompak, memperbaiki cita rasa, dan memperpanjang masa simpan.

Jenis ikan yang biasa digunakan sebagai bahan baku pemindangan adalah ikan air laut seperti tongkol (Euthynnus spp), tenggiri (Scomberomorus spp), kembung (Scomber spp), layang (Decapterus spp) dan ikan air tawar misalnya mas (Ciprinus carpio) dan nila (Tilapia nilotica) serta ikan air payau seperti bandeng (Chanos chanos).

Ikan pindang kaya akan vitamin A dan D dengan kandungan protein sebesar 15% – 24%. Ikan pindang pun digemari masyarakat di luar Indonesia. Di beberapa negara tetangga, ikan pindang mempunyai nama yang berbeda. Di Thailand ikan pindang dikenal dengan nama Pla thu nung, di Philipina Sinaeng, di Malaysia dan Singapura dikenal dengan nama boiled fish. Di Indonesia sendiri ikan pindang dikenal dengan beberapa nama yaitu ikan pindang, cue, atau presto.
clip_image002
Gambar 13. Ikan pindang bandeng

Ada beberapa alasan kenapa ikan pindang cukup dikenal dan digemari masyarakat, yaitu:
1) Proses pembuatan ikan pindang sederhana dan bisa dilakukan oleh semua orang.
2) Bumbu yang ditambahkan pada proses pembuatan ikan pindang mengikuti selera dan keinginan konsumen.
3) Nilai gizi ikan pindang cukup tinggi sehingga bisa dijadikan sebagai salah satu sumber protein hewani.
4) Bahan baku ikan pindang bisa berasal dari berbagai jenis, ukuran, dan tingkat kesegaran ikan. Tetapi tentunya hal ini akan mempengaruhi kualitas produk yang dihasilkan.
5) Limbah cair hasil proses pemindangan bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan petis atau kecap ikan.